| SKPD Peraih ISO Dilirik Wawan Sobari |
|
|
|
| Written by Administrator | |
| Senin, 19 April 2010 | |
Wawan Sobari, tim dari JPIP kemarin (14/4)
melanjutkan tugasnya dalam menggali inovasi Kota Probolinggo. Lembaga
Pemerintah yang pertama kali dikunjungi adalah Bappeda. Untuk mewujudkan
e-government, Aman Suryaman, Kabid. Dalitbang dan Sonhadji, Kasubid. Data dan
Stastistik menerangkan bahwa Kampung Cyber dan Layanan SP2K2 menjadi andalan.
Selain itu juga website resmi Pemerintah Kota juga ikut mendukung untuk
memberikan informasi kepada masyarakat. Ditempat terpisah, Wawan menemui Budi
Krisyanto, Kepala Bappeda Kota Probolinggo. Dia menerangkan tentang
Transparansi Akuntanbilitas dengan program Probolinggo Summit 2K9. Masyarakat
diajak rembug bersama untuk input pemerintah dan salah satu bentuk
akuntanbilitas pemerintah. Spirit Otonomi Daerah perlu dimaksimalkan dengan
pemberdayaan Sumber daya lokal, baik itu SDA maupun SDM, kemudian pemberdayaan
masyarakat, dan reformasi birokrasi. "Selain itu, ada pula Kontrak Kinerja,
Morning on Panglima Sudirman Street (MPS2) dan Seminggu di Kota Probolinggo
(SEMIPRO) yang bertujuan untuk memfasilitasi masyarakat agar berkesempatan untuk
mempromosikan sektor riil dari UKM ataupun UMKM" terang Budi.
Kemudian Wawan Sobari dengan didampingi Sonhadji berkunjung ke Diskoperindag utnuk menggali inovasi original dari dinas itu. Tema yang diangkat adalah mengenai Pembinaan Pedagang Kaki Lima dan Asongan, namun karena kepala Bidang Perdagangan tidak ada ditempat, informasi tersebut tidak dapat dikorek. Kemudian dilanjutkan ke bagian koperasi, disini tim diterima oleh Murtojo. Dalam pengembangan sistem pendukung UKM, koperasi adalah solusi utama. Dengan bantuan dana bergulir, UKM di Kota Probolinggo mulai menggeliat, apalagi bunga pinjaman hanya 6 persen yang tidak terlalu memberatkan bagi UKM. Dampak terhadap UKM sangat signifikan, hal itu dibuktikan dengan semakin besarnya usaha batik, produk baru di Kota Probolinggo, yang sudah menerima pesanan dari Jakarta, Surabaya dan Malang. Untuk UKM yang lama lebih terasa lagi dengan semakin besarnya usaha mereka. Selesai dari Bidang Koperasi, Wawan disambut Kepala Diskoperindag, Widiharto. Dia menjelaskan tentang Pembinaan Pedagang Kaki Lima dan Asongan dengan santai di ruang sekretarisnya. " dalam rangka peningkatan kesejahteraan PKL dan Asongan, maka mereka diberi bantuan modal, namun bukan uang tapi berupa peralatan. Kalau diberi uang, modalnya akan habis terpakai kebutuhan lainnya" tuturnya. Kemudian untuk pengembangan SDM diadakan pelatihan, dengan harapan dari 40 orang yang hadir, 15 - 20 orang aktif untuk melanjutkan hasil dari pelatihan. Diharapkan pula terjadi peralihan profesi yang lebih baik dari sebelumnya. "ada pengamen wanita, pada waktu itu sedang mengamen di tempat pelatihan membatik, akhirnya orang itu diajak untuk ikut pelatihan. Dia tertarik, dan akhirnya sekarang membuka usaha produksi batik dengan tenaga kerja pengamen wanita, kalau mau kita ke tempat orang itu" ajak Widiharto, namun ditolak karena masih banyak yang mau disurvey. Di Kecamatan Mayangan, Wawan dan Sonhadji disambut oleh Hasan, Camat Mayangan. Dia sendiri yang mengantar dan memberikan informasi yang dibutuhkan oleh tim JPIP. Kecamatan peraih ISO 9001:2008, memiliki Index Kepuasan Masyarakat (IKM) berupa blanko dan kartu, selain itu pelayanan satu atap. Pelayanan KTP, KK, IMB, Penutupan sebagian jalan dan sebagainya bisa diproses di ruang pelayanan. Perbaikan dalam administrasi dan personil diutamakan dalam pelayanan di Kecamatan Mayangan. "Kalau ada fasilitas kantor yang tidak memuaskan bagi masyarakat, contohnya kamar mandi, kami perbaiki, kalau ada yang perlu diganti, kami ganti dengan yang baru" terang Hasan. Setelah itu, Wawan berkeliling kecamatan dan memfoto bagan-bagan yang ada di kecamatan, mulai dari alur pelayanan, sampai pendukungnya. Selepas dari Kecamatan Mayangan, perjalanan dilanjutkan ke Dinas Kesehatan. Titik berat pembahasan kesehatan adalah di bidang Sanitasi, yang diterangkan oleh Wiwiet, staf Sanitasi, dan di bidang Puskesmas, yang diterangkan oleh Nurul dan Immamatus. Pada sanitasi, yang sudah dilakukan Dinkes antara lain penelitian kualitas air bersih, pemeriksaan air minum masyarakat dan pemeriksaan pada depo air minum. Selain itu sosialisasi dan pembentukan forum untuk memfasilitasi dinkes dengan masyarakat tentang sanitasi yang mengarah pada kota sehat. Kemudian untuk saran fisik, Dinkes bekerjasama dengan Dinas Pekerjaan Umum. Ditambahkan oleh Nurul tentang grand design Puskesmas, bahwa puskesmas di Kota Probolinggo memiliki ciri khas masing-masing. Puskesmas Ketapang dengan andalan UGD, Puskesmas Sukabumi spesialis mata, Puskesmas Jati spesialis Akupuntur, Puskesmas Kedopok dengan andalan lansia, Puskesmas Kanigaran spesialis gigi, dan Puskesmas Wonoasih dengan andalan Ibu hamil dan menyusui. Semua mengarah pada tujuan ibu sehat, bayi sehat, kota sehat. Immamatus menerangkan tentang Puskesmas Wonoasih dengan motto One Stop Service for Mom and Baby. Dengan dijaganya kondisi kesehatan Ibu Hamil maka resiko kematian ibu hamil bisa ditekan. Reformsi pelayanan puskesmas antara lain emergency bayi dan ibu hamil, senam ibu hamil, Kamar Operasi, Rawat Inap, Fisioterapi, pijat bayi dan USG 4 Dimensi. Pada administrasi, layanan lebih modern dengan menggunakan ID. "Semua jenis layanan di puskesmas kami perbaiki, baik itu manajemen, sistem, prosedur dan waktu, dan hasilnya kami mendapat ISO" terang Immamatus. Keterangan kerja sama antara Dinkes dengan DPU rupanya tidak memuaskan bagi Wawan, maka tim meluncur ke DPU yang diterima oleh Kepala DPU sendiri, Sanusi Sapuwan. Kualitas Sanitasi Masyarakat berupa pembuatan MCK komunal, dan pengerjaannya ditangani oleh masyarakat, tidak ditangani oleh pihak ketiga. Proyek ini diberikan kepada masyarakat agar pemanfaatan dan perawatannya lebih optimal, dan lebih dirasakan oleh warga. "Sebenarnya masih banyak lingkungan yang perlu pengembangan"terang Sanusi. |
|
| Last Updated ( Rabu, 28 April 2010 ) |
| < Prev | Next > |
|---|





Informasi Perijinan













