Capai 3 Zeroes untuk Cegah dan Kendalikan Kasus HIV

2022

MAYANGAN - Program pengendalian HIV termasuk prioritas dalam standar pelayanan minimal bidang kesehatan. Infeksi HIV masih menjadi masalah kesehatan global dan nasional, termasuk di Kota Probolinggo. Dalam memerangi HIV-AIDS, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) menggelar talk show mengundang seluruh elemen masyarakat dengan tema “Satukan Langkah Cegah HIV. Semua Setara Akhiri AIDS”, Selasa (13/12) di BJBR Resto.

Plt. Kepala Dinkes P2KB dr. NH Hidayati mengatakan, giat ini digelar untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan kemandirian masyarakat dalam mencegah infeksi dan penularan HIV-AIDS. Selanjutnya, untuk menggerakkan perempuan dan remaja untuk secara aktif melakukan upaya pencegahan infeksi dan penularan HIV-AIDS bagi diri sendiri dan lingkungannya.

“Kemudian untuk meningkatkan keberpihakan dan kesetaraan dalam menyediakan layanan pencegahan, tes dan pengobatan HIV-AIDS berkualitas untuk semua orang. Dan juga untuk meningkatkan penggerakan sumberdaya dalam mengakhiri AIDS sebagai ancaman kesehatan masyarakat,” kata dr Ida.

Pada kesempatan itu, Asisten Pemerintahan Gogol Sudjarwo menjelaskan keberhasilan pencegahan dan pengendalian HIV dan AIDS sangat ditentukan oleh kerja sama seluruh jajaran lintas-sektor. Pemerintah daerah serta dukungan seluruh lapisan masyarakat, baik organisasi profesi, perguruan tinggi, organisasi kemasyarakatan, lembaga swadaya masyarakat, media massa, kalangan swasta dan dunia usaha. “Selain itu peran dan dukungan berbagai kelompok masyarakat, seperti orang dengan HIV, orang yang berisiko tertular, masyarakat umum dan kalangan mahasiswa dan pelajar juga sangat penting,” terangnya.

Sasaran pencegahan dan pengendalian HIV AIDS di Indonesia adalah mencapai 3 zeroes, yaitu tidak ada lagi kasus HIV, tidak ada lagi kematian terkait AIDS, dan tidak ada stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV-AIDS.

Menurutnya, upaya yang perlu dilakukan adalah dengan memperluas cakupan pelayanan kesehatan, meningkatkan akses masyarakat pada pelayanan kesehatan yang komprehensif dan bermutu, termasuk pelayanan pencegahan dan pengendalian HIV-AIDS, yang diperkuat dengan inovasi dan sinergi segenap pemangku kepentingan.

Dikemas secara interaktif dengan audiens berbagai kalangan, Dewi Lestari dari  Dinkes P2KB Kota Probolinggo menyebutkan data sebanyak 150 orang penderita HIV-AIDS di Kota Probolinggo terdiri 78 laki-laki dan 72 perempuan rata-rata berusia produktif, yakni sekitar 24-29 tahun dan sisanya juga ada berusia anak-anak. “Dan alhamdulillah semuanya dapat pengobatan semua. Ada yang meninggal 5 orang pada tahun 2022 ini,” terangnya.

drg. Sulvy Dwi Anggraini dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur pun menyerukan kebersamaan seluruh stakeholder untuk bersama-sama memerangi HIV-AIDS yang penularannya bergeser dari jarum suntik ke hubungan seksual.

“Kalau dulu kita lihat usia-usia (terkena HIV-AIDS) itu banyak usia produktif. Tapi mulai sekarang usia-usia lebih muda itu kita temukan sudah dalam kondisi HIV positif. Kalau dulu mungkin mengalami HIV positif itu banyak ditularkan melalui jarum suntik, tapi sekarang sudah mulai bergeser yaitu penularannya melalui hubungan seksual. Nah itu menjadi perhatian kita semuanya karena tugas kita bersama, generasi-generasi muda kita supaya bisa mencegah HIV AIDS,” serunya.

Terkait siklus kehidupan yang menggambarkan perempuan, remaja dan anak, Sulfi mengingatkan pada kita semua untuk membekali anak-anak kita dengan ilmu agama dan berdoa.

Kelompok Peduli HIV-AIDS Zainal Abidin pun ikut menambahkan jika pada tahun 2022 terdapat peningkatan kasus penularan HIV-AIDS yang disebabkan oleh suatu komunitas/kelompok yang memiliki orientasi seksual berbeda. Artinya, mereka adalah homo seksual (gay), LSL (laki suka laki) dan biseksual dan didukung oleh sosial media pada perkumpulan komunitas itu. (DY/fa)

BAGIKAN