Menteri Muhadjir Datangi Rumah Korban Tragedi Kanjuruhan

2022

KANIGARAN - Jalan KH. Hasan Gang Berunding RT 01 RW 04 Kelurahan Sukoharjo Kecamatan Kanigaran, Minggu (9/10) siang mendadak ramai. Rumah tinggal almarhum Yanuar Dwi Bramastyo itu kedatangan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy.

Yanuar Dwi Bramastyo adalah salah satu korban tragedi Kanjuruhan Malang 1 Oktober lalu. Diceritakan oleh dua orang korban yang selamat, Arizal Wisnu (17 tahun) pelajar kelas XI SMK A. Yani dan Faidullah Saviola (14 tahun) pelajar kelas IX SMPN 3. Keberangkatan ketiganya menggunakan mobil Elf, berisikan 16 orang. Mereka berangkat setelah mendapat izin dari orang tua masing-masing. Dengan berbekal uang Rp 135 ribu per anak, uang itu digunakan untuk sewa mobil dan tiket masuk stadion. Ketiganya berangkat dari Jorongan.

Selanjutnya, mereka melihat di tribun gate 12. Usai pertandingan sekira pukul 23.30 WIB kericuhan pun terjadi. Ketiganya berpencar untuk menyelamatkan diri masing-masing. Saviola masih sempat menggandeng tangan almarhum Yanuar, namun nahas gandengan tangannya terlepas. Saviola dan Arizal selamat dan bertemu di parkiran Elf (mobil ia tumpangi).

Tak demikian dengan almarhum Yanuar. Ia baru diketahui keesokan paginya telah merenggang nyawa. Ya, sepenggal cerita kedua korban selamat tragedi Kanjuruhan Malang itu, menyisakan trauma mendalam. Keduanya bahkan mengaku tidak akan lagi menonton sepak bola secara langsung di stadion dan memilih menyaksikan dari televisi.

“Terima kasih atas perhatian dari bapak Menteri PMK atas musibah ini, semoga ini menjadi yang terakhir untuk tragedi kemanusiaan. Ini (kedatangan Menko PM) juga sebagai penguat orang tua dari korban,” ucap ayahanda almarhum Yanuar, Serda Joko TNI AL.

Sementara itu, Menko PMK Muhadjir didampingi Wali Kota Habib Hadi Zainal Abidin mengucapkan bela sungkawa. “Tadi dari Kabupaten Probolinggo, sekarang ke kotanya (Kota Probolinggo). Harapannya jangan sampai peristiwa ini terulang kembali, peristiwa yang sangat menyakitkan dan menyedihkan. Terlalu mahal kalau sepak bola harus dikorbankan dengan nyawa yang begitu banyak. Untuk itu, saya mengimbau kepada seluruh supporter untuk berhati-hati, walau pun memang namanya musibah itu sulit, kalau sudah ditentukan oleh Tuhan tidak bisa dihindari. Tapi kita bisa mengambil hikmah dari kejadian ini,” tutur Menteri Muhadjir.

Menurutnya, banyak hal yang harus diperhitungkan atas kejadian ini. Selain pengelola lapangan, juga harus punya perhitungan yang pasti dan jelas, misalnya kapasitas gelanggang dan waktu penyelenggaraan.

Dari 130 korban meninggal adalah sebanyak 70 orang adalah anak-anak berusia 11 – 20 tahun, kemudian umur 4 tahun 1 orang. “Jadi itu (korban meninggal berusia belia) pasti sangat memukul orang tuanya. Karena itu harus ada penyembuhan trauma, yang tidak hanya kemarin yang nonton saja, tapi juga keluarga akan didampingi tim trauma healing,” jelasnya.

Tim trauma healing itu telah disediakan dari Kemenkes, Kemensos dan perguruan tinggi. “Insyaallah akan kita beri pelayanan maksimal sehingga dampak negatif dari tragedi Kanjuruhan itu dapat ditekan semaksimal mungkin. Kita akan cek semua perkembangan pelayanan trauma healing,” terangnya.

Tak hanya itu, ia juga menegaskan jika ada keluarga yang terdampak ekonomi. Misal korban meninggal adalah tulang punggung ekonomi keluarga, ia akan memberikan bantuan sosial dengan skema Program Keluarga Harapan (PKH) dan juga dana desa untuk meringankan beban korban keluarga. (DY/fa)

BAGIKAN