KANIGARAN – Tindakan tegas diambil oleh Pemerintah Kota Probolinggo jika menemukan pengemis, anak dan orang terlantar hingga Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di jalanan. Mereka bakal diangkut, dibawa ke shelter untuk kemudian mendapatkan penanganan sesuai hasil skrining bekerja sama dengan Yayasan Amanah Abdul Aziz “Pondok Pering”.
Langkah ini diambil untuk mewujudkan Kota Probolinggo Bersolek dari sisi sosial. Yang artinya, kota ini harus bersih dari PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial) atau PPKS (Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial). Tidak hanya membawa ke shelter, pemerintah harus hadir melakukan intervensi karena memiliki tanggung jawab menjadikan mereka orang yang mandiri dan berkarya.
“Syarat suatu kota harus bebas dari peminta-minta, pengemis, orang terlantar tidak punya rumah. Kita usahakan Kota Probolinggo bebas dari pengemis, anak gelandangan dan lainnya. Kita siapkan protapnya,” ujar Wali Kota Probolinggo Dokter Aminuddin.
Menyeriusi langkah tersebut, Jumat (31/7) pagi, Dokter Aminuddin meninjau kondisi shelter yang dikelola Dinas Sosial PPPA di Jalan Mastrip. Kebetulan di shelter, baru saja menerima gelandangan yang diketahui berasal dari Jember bernama Sale, kelahiran tahun 1965.
Sale mengaku berjalan kaki hingga sampai di Kota Probolinggo. Sale dibawa oleh Satpol PP setelah ditemukan lontang-lantung di sebuah SBPU kawasan kota. Secepatnya warga Bangsalsari itu akan dikirim ke Jember, sesuai hasil koordinasi Dinsos PPPA dengan pihak terkait di sana.
Usai melihat kondisi shelter, wali kota yang didampingi Asisten Administrasi Umum Retno Fadjar Winarti, Kepala Dinsos PPPA Siti Romlah, Kepala Dinkes P2KB dr. Intan Sudarmadi, Kepala Dishub Pudi Adji Tjahjo Wahono, Camat Kanigaran Purwantoro Noviyanto, Dinas PUPR-KB, Satpol PP dan lurah setempat menuju ke Yayasan Amanah Abdul Aziz di Jalan Cokroaminoto Gang 7, Kelurahan Kanigaran.
Yayasan yang dikenal dengan Pondok Pering ini memang menjadi tempat pengobatan bagi orang yang mengalami gangguan mental hingga pecandu narkoba. Lokasi pondok yang dikelola Ustaz Agung atau dikenal Ustaz Ali Wafa terletak di ujung gang. Di depan pondok disambut bangunan musala, kemudian ada pintu masuk menuju ke tempat perawatan.
Di sana juga disiapkan tempat tinggal untuk santri atau pasien selama perawatan berlangsung. Setelah mereka membaik juga disiapkan tempat tersendiri. Beberapa fasilitas nampak perlu diperbaiki agar lebih layak dan bersih.
“Di sini (Pondok Pering) khusus untuk rehabilitasi mental, kerohanian dengan metode inaba (terapi rehabilitasi medis sosial keagamaan berbasis Islam). Suasana alamnya nanti tetap dipertahankan dan fasilitasnya akan diperbaiki,” ujar Dokter Aminuddin kepada pengasuh pondok, saat meninjau salah satu ruangan.
Langkah pertama yang akan dilakukan oleh Pemkot Probolinggo dan Yayasan, lanjut wali kota, adalah pembuatan perjanjian kerja sama. Pemkot juga akan membantu proses administrasi perizinan hingga mengecek sertifikasinya.
“Ke depan, ada yang ketemu di jalan (pengemis dll) kita angkut dan siapkan shelter di Dinsos. Nanti kita cari apakah ada masalah kesehatan, kecanduan narkoba atau lainnya. Kita juga akan kerja sama dengan BNN supaya mereka bisa melalui proses pengobatan,” tutur Dokter Aminuddin.
Pada kesempatan itu, wali kota juga sempat berinteraksi dengan mantan santri Pondok Pering. Saat sudah sembuh, mereka ada yang menetap, ada yang pulang ke rumah masing-masing. Bahkan, ada santri yang kini bekerja menjadi pedagang makanan.
“Alhamdulillah sudah sembuh ya, sudah kembali ke jalan yang benar. Mudah-mudahan semakin banyak yang sembuh dan membaik dengan metode inaba disini,” harap Dokter Aminuddin.
Optimis Akan Merubah Wajah Kota, Pondok Apresiasi Langkah Pemkot
Kepala Dinsos PPPA Siti Romlah menambahkan, berlatar dari mewujudkan kota yang bersih dari PMKS dan PPKS maka SOP (Standar Operasional Prosedur) penanganan diperkuat. Setelah masuk shelter, dilakukan asesmen awal kolaborasi Dinsos PPPA dengan tim Dinkes serta psikolog. Asesmennya meliputi identitas kependudukan, pendidikan dan kesehatan.
“Ketika tidak ada identitas akan kita cek KTP dan KK karena itu hak semua warga negara. Ketika ada masalah kesehatan, kita intervensi juga. Makanannya juga kita pikirkan. Dari hasil asesmen, akan kita mapping apakah perlu pembinaan fisik atau mental lanjutan,” jelas Siti Romlah.
Nah, untuk penanganan mental berkelanjutan PMKS dan PPKS inilah Pemkot Probolinggo membutuhkan tempat. “Kami tertarik kerja sama dengan Pondok Pering karena punya kesamaan visi misi. Kami yakin dan optimis, Langkah ini akan membuat wajah baru kota bersih dari PMKS dan PPKS,” katanya optimis.
Tuntas dari pembinaan mental, masih menurut Siti Romlah, pihaknya berharap ada kerja sama stakeholder agar mereka bisa berdaya. Pemberdayaan sosial sampai mereka mandiri, sehat secara fisik dan mental. “Mereka kita graduasi (perubahan status dari penerima bantuan menjadi mandiri secara ekonomi) agar menjadi orang sukses seperti kebanyakan orang,” imbuh mantan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan ini.
Meski masih butuh pembenahan bangunan di Pondok Pering, bagi Kepala Dinsos PPPA, SOP ini bisa dilaksanakan saat ini juga. “Jadi kita siap bergerak, bukan menunggu. Arahan Bapak Wali Kota, ada gelandangan, pengemis, ODGJ, siapapun akan kami sikapi. Kerja sama bisa dilakukan sambil rehab tempat secara fisik berjalan. Musala dan tempat pembinaan sudah ready. Tetap bisa dilakukan (action) sambil proses penanganan dilakukan,” pungkasnya.
Ditemui usai kunjungan, Ustaz Agung menyambut baik dan merasa sangat bersyukur dengan adanya perhatian dan langkah nyata wali kota dan Pemkot Probolinggo atas keberadaan Pondok Pering. “Ini angin segar, bukti nyata bahwa pemerintah hadir dan peduli terhadap nasib saudara-saudara kita ODGJ, anak jalanan, kaum dhuafa, gepeng maupun manusia silver yang selama ini sering terabaikan,” tuturnya.
Ustaz Agung pun berharap, rencana fasilitasi shelter menjadi 6 ruangan dan rumah singgah yang layak huni segera terwujud agar dapat memberi pelayanan dan tempat tinggal yang pantas untuk mereka yang sedang dalam pemulihan. Apresiasi pun ia sampaikan terhadap kerja sama lintas instansi di Kota Probolinggo untuk penanganan yang lebuh terpadu, lancar dan menyeluruh.
“Karena tempat kami bukan sekadar tempat berteduh tapi aspek pengobatan mental dan rohani. Sehingga harapan kita bersama, keberfungsian sosial mereka secara utuh ada dukungan dari pemerintah. Semoga kerja sama ini berjalan lancar, diberkahi dan membawa manfaat besar bagi masyarakat,” imbuh Ustaz Agung.
Membahas tentang metode pengobatan, ia menjelaskan, menggunakan metodologi bekam, ruqyah ( inabah ), herbal, dzikir tarekat Naqsyabandiyah. Lama pemulihan tergantung dari kasus dan lama sakit yang diderita. Kasus ODGJ atau narkoba misalnya, lama kesembuhan tergantung paradigma mindset keinginan sembuh pasien itu sendiri.
“Dari sisi keluarga juga mendukung apa tidak. Jadi pengobatan kami menyeluruh tidak hanya menangani pasien saja tetapi keluarganya juga kami terapi agar tingkat kesadaran paradigma mindsetnya benar,” ungkap Ustaz Agung yang juga menyebut Pondok Pering merupakan akronim dari Persatuan Remaja Infarul Ghowayah. (fa/pin)



