KANIGARAN – Event Batik in motion 2026 resmi dibuka. Kegiatan yang memadukan potensi budaya, fesyen, pariwisata, dan kuliner Kota Probolinggo ini berlangsung selama tiga hari, Jumat hingga Minggu (4–6/9). Beragam agenda disiapkan, antara lain parade batik showcase, peragaan busana, kontes batik, Batik Beach Fun Dance, Grand Fashion Parade Batik Futuristik, dan Batik Tourism Experience.
Pembukaan yang digelar di panggung utama depan Kantor Wali Kota Probolinggo, Jumat (4/9) sore, dihadiri Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin, Ketua Dekranasda Kota Probolinggo dr. Evariani, Wakil Wali Kota Ina Dwi Lestari, Sekretaris Daerah Budiono Wirawan beserta jajaran Forkopimda. Mengusung tema “Tradition in Rhythm, Culture in Movement”, kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi ke-667 Kota Probolinggo.
Dalam sambutannya, Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin mengapresiasi kerja keras seluruh pihak yang terlibat dalam pembukaan Batik in Motion 2026. Dirinya berjanji memberikan penghargaan kepada para penari dan semua pihak yang turut menyukseskan kegiatan tersebut.
"Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini. Letih dan jerih payah para penari terbayarkan, dan insyaallah saya janjikan akan memberikan piagam penghargaan khusus kepada sekitar 2.800 penari, pelatih, pembimbing, serta semua pihak yang telah menyukseskan acara bersejarah pada sore hari ini," ucap wali kota.
Selain memberikan apresiasi terhadap pertunjukan budaya, dokter Amin memanfaatkan momentum tersebut untuk memperkenalkan potensi pariwisata, kuliner, dan UMKM Kota Probolinggo kepada para tamu serta delegasi dari luar daerah.
"Kuliner kita juga tidak kalah dari tempat-tempat lain. Kalau pagi ada yang namanya ketan kratok, nanti siang sedikit ada makanan khas nasi pendalungan. Makanya Ibu-ibu, kalau yang baru datang atau yang belum menyicipi yang namanya nasi pendalungan ini, kiranya besok siang bisa menyaksikan atau mencicipi makanan khas Kota Probolinggo berupa nasi pendalungan," kata dokter Amin.
Senada dengan wali kota, Ketua Dekranasda Kota Probolinggo dr. Evariani menyebut kolaborasi seluruh elemen masyarakat sebagai salah satu kunci keberhasilan gelaran tersebut. Menurutnya, keterlibatan aktif berbagai komunitas tidak hanya memperkuat semangat gotong royong, tetapi juga mendorong perubahan pola pikir masyarakat demi kemajuan Kota Probolinggo.
"Kenapa kita melibatkan kesatuan komunitas di Kota Probolinggo ini? Karena dengan bergeraknya Kota Probolinggo secara utuh, itulah yang akan mengubah mindset budaya kita agar makin naik, makin kompak. Kegotongroyongan ini menyatukan mereka dalam satu proses bertumbuh, sehingga Kota Probolinggo bisa naik kelas menuju pembangunan yang kita harapkan," jelasnya.
Pembukaan Batik in Motion 2026 dimeriahkan oleh pertunjukan seni tradisional dan modern. Ribuan peserta dari kalangan pelajar, forkopimda, ASN, organisasi wanita, komunitas, dan sanggar seni tampil bersama membawakan Tari Jaran Bodag, Tari Kiprah Lengger, serta Tari Kipas Bayuangga. Acara dilanjutkan dengan Welcome Parade Batik Showcase, Universal Line Dance, Tari Batik Nusantara, sendratari, dan peragaan busana batik futuristik.
Salah satu perhatian pengunjung tertuju pada kompetisi peragaan busana batik futuristik. Febrilian, mahasiswa semester VII jurusan fesyen Universitas Negeri Malang, menjadi salah satu dari 10 finalis terpilih dalam kompetisi tersebut.
"Ini adalah pengalaman pertama bagi saya merancang busana untuk peragaan outdoor yang megah seperti ini. Senang sekali rasanya karya saya bisa dipromosikan langsung di hadapan publik. Desain busana yang saya bawa mengusung konsep arsitektur parametrik futuristik yang dipadukan secara kolaboratif dengan kain batik khas Probolinggo," ungkapnya
Diketahui, Batik in Motion 2026 juga dihadiri Sekretaris Dekranasda Provinsi Jawa Timur, perwakilan Pemerintah Kabupaten Ponorogo, serta para ketua Dekranasda kabupaten dan kota se-Jawa Timur. Delegasi yang hadir antara lain berasal dari Banyuwangi, Bojonegoro, Kediri, Ngawi, Blitar, Malang, Pasuruan, Bondowoso, Sampang, Lumajang, Nganjuk, Sidoarjo, Mojokerto, Bangkalan, dan Ponorogo. (dp/pin)
