MAYANGAN – Rangkaian Peningkatan Kapasitas Guru melalui Lesson Study dan Lokakarya Pemanfaatan TIK dalam Pembelajaran Matematika berlanjut dengan praktik pembelajaran komputasi dan robotik, Kamis (20/8) pagi. Kegiatan yang berlangsung di Aula Ki Hajar Dewantara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Probolinggo ini diikuti 39 guru dari berbagai SMP negeri dan swasta, khususnya yang terlibat dalam pembelajaran TIK dan robotik.
Kegiatan ini diawali pada Selasa (18/8) yakni audiensi Wali Kota Probolinggo bersama Prof. Masami Isoda dari University of Tsukuba, Jepang, serta tim SEAMOLEC dan SEAQiM. Pertemuan tersebut membahas penguatan pembelajaran matematika, numerasi, sains, serta pengembangan robotik dan teknologi. Berlanjut pada Rabu (19/8) melalui Lesson Study dan lokakarya pemanfaatan TIK dalam pembelajaran matematika, dengan guru mengamati praktik pembelajaran secara langsung.
Memasuki hari ketiga ini, Prof. Masami Isoda mengawali kegiatan dengan memperkenalkan Center for Research on International Cooperation in Educational Development (CRICED), pusat riset yang berada di University of Tsukuba, Jepang, melalui situs resminya.
Setelah itu, Prof. Isoda mengajak guru mengikuti praktik pembelajaran komputasi dan robotik. Para peserta diajak mengenal dan mengeksplorasi perangkat robotik melalui proses mengamati, mendesain, mencoba, serta menemukan berbagai kemungkinan pengembangan.
Praktik tersebut tidak hanya berfokus pada penggunaan perangkat, tetapi juga pada cara memanfaatkan teknologi untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih beragam. Prof. Isoda menjelaskan perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat.
Katanya, teknologi yang digunakan saat ini belum tentu tetap relevan dalam beberapa tahun mendatang. Oleh karena itu, pembelajaran perlu membekali peserta didik dengan kemampuan untuk menghadapi perubahan, bukan hanya menguasai teknologi tertentu.
“Teknologi berkembang sangat cepat. Dalam 10 tahun, teknologi yang digunakan saat ini bisa saja sudah tidak digunakan lagi. Karena itu, yang penting bukan hanya mengajarkan teknologi, tetapi bagaimana kita mempersiapkan anak untuk menghadapi perubahan tersebut,” ujar Prof. Isoda melalui penerjemah dari SEAQiM.
Menurutnya, literasi tidak hanya berkaitan dengan hasil, tetapi juga proses belajar. Peserta didik perlu diberikan kesempatan untuk mengamati, mendesain, serta memahami persoalan dari berbagai sudut pandang.
“Salah satu hal yang penting dalam literasi adalah proses. Kita akan melakukan proses mendesain dan mengganti sudut pandang. Perbedaan sudut pandang juga termasuk dalam observasi karena cara melakukan observasi dapat bermacam-macam,” jelasnya.
Dalam sesi praktik, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok yang masing-masing terdiri atas dua hingga tiga orang. Setiap kelompok memperoleh satu perangkat robotik yang ditempatkan dalam kotak observasi. Di dalam kotak tersebut terdapat sejumlah kabel, simbol, serta komponen dengan karakteristik yang berbeda. Peserta diminta mengamati isi kotak dan menjelaskan fungsi dari setiap bagian yang ditemukan.
Kegiatan tersebut memberikan pengalaman kepada guru untuk memahami cara kerja perangkat secara langsung sekaligus melatih kemampuan mereka dalam menjelaskan konsep tersebut dengan cara yang mudah dipahami ketika diterapkan dalam pembelajaran.
Selanjutnya, peserta menghubungkan perangkat robotik dengan laptop masing-masing menggunakan aplikasi pendukung. Melalui aplikasi tersebut, guru dapat melakukan pengaturan dan mengembangkan perangkat robotik dengan mencoba berbagai kemungkinan. Praktik ini memberikan kesempatan kepada guru untuk memahami proses pengembangan robotik secara langsung, tidak hanya melalui teori pemrograman.
Prof. Isoda juga menekankan pentingnya berbagi ide dan program antarguru. Menurutnya, pertukaran pengalaman dapat membantu guru menciptakan lebih banyak variasi pembelajaran dan menghindari kegiatan belajar yang monoton.
“Jika guru menjelaskan fungsi setiap bagian satu per satu kepada satu kelas, pembelajaran bisa menjadi membosankan. Dengan berbagi program dan ide, guru dapat mengembangkan lebih banyak variasi pembelajaran,” katanya.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, guru tidak hanya memperoleh pengalaman langsung dalam mengenal dan mengembangkan perangkat robotik, tetapi juga didorong untuk mengembangkan proses pembelajaran yang lebih kreatif dan beragam. Pengalaman ini diharapkan dapat menjadi bekal bagi guru dalam memanfaatkan teknologi serta mengembangkan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik, sekaligus memperkuat semangat kolaborasi antarguru dalam menciptakan kegiatan belajar mengajar yang lebih variatif di sekolah masing-masing. (zal.mg/sit/fa)



