Beragam Cerita dan Kreasi Warnai Meriahnya Pawai Budaya Hari Jadi ke-667 Kota Probolinggo

2026

KANIGARAN – Setelah dilepas Wali Kota Probolinggo Dokter Aminuddin bersama Forkopimda, tiba saatnya masyarakat menikmati suguhan Pawai Budaya dalam rangka Hari Jadi ke-667 Kota Probolinggo. Sebanyak 23 kontingen turut ambil bagian dalam Pawai Budaya tersebut. Peserta tidak hanya berasal dari perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Kota Probolinggo, tetapi juga melibatkan berbagai unsur lintas sektor.

Keberagaman peserta menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Masing-masing kontingen membawa tema, karakter, serta kreativitas yang menggambarkan kekayaan seni dan budaya Nusantara maupun potensi daerah. Salah satunya ditampilkan Bank Jatim Cabang Probolinggo yang berada pada nomor urut 3.

Kontingen ini mengangkat ikon Mangga dan Anggur, dua buah yang selama ini menjadi identitas Kota Probolinggo. Perpaduan karakter mangga dan anggur dengan unsur khas Probolinggo menciptakan identitas visual yang mudah dikenali sekaligus mencerminkan kekayaan alam dan budaya daerah.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Probolinggo yang turut memeriahkan pawai tahun ini mempersembahkan kisah Cindelaras. Cerita rakyat tersebut mengisahkan seorang anak laki-laki yang tinggal di hutan bersama ibunya, yang sebenarnya merupakan permaisuri Kerajaan Jenggala.

Kisah Cindelaras kemudian dimaknai sebagai representasi semangat masyarakat Kabupaten Probolinggo untuk terus melestarikan budaya, merawat persaudaraan, dan bersama-sama membangun daerah dengan penuh kebanggaan.

Berikutnya, Sekretariat DPRD Kota Probolinggo menampilkan kisah Nyai Sekar Arum. Cerita tersebut mengangkat sosok perempuan bangsawan dari Blambangan yang dikenal memiliki kecantikan, kelembutan, serta kepiawaian dalam menari dan melantunkan tembang. Kehadiran sosok Nyai Sekar Arum bersama rombongan kesenian di tanah Banger membawa warna dan kekaguman bagi masyarakat.

Pesonanya kemudian menarik perhatian seorang penguasa yang memiliki keinginan untuk memilikinya. Nama Sekar Arum pun tetap hidup dalam ingatan masyarakat melalui sumber mata air yang kemudian dikenal sebagai Sumber Arum.

Sementara itu, PT Bahari Tanjung Tembaga (Perseroda) mengangkat tema “Pesona Bahari Nusantara” melalui kisah Jebing Majengan. Karya tersebut menggambarkan kehidupan sehari-hari perempuan pesisir dalam menjaga kehidupan yang harmonis, bersih, dan indah. Semangat kebersamaan serta kerja keras yang ditampilkan menjadi gambaran optimisme masyarakat untuk terus berbenah dan bersatu mewujudkan Probolinggo Bersolek.

Beragam cerita dan penampilan yang dibawa para kontingen tersebut menunjukkan bahwa Pawai Budaya Hari Jadi ke-667 Kota Probolinggo menjadi ruang untuk mempertemukan sejarah, cerita rakyat, kesenian, kreativitas, serta potensi masyarakat.

Antusiasme masyarakat pada budaya tahun ini begitu luar biasa. Kendati pawai berlangsung hingga malam hari, masyarakat masih memadati start di depan Kantor Wali Kota Probolinggo sampai ke rute jalur yang dilintasi peserta pawai. Salah satu penonton asal Cokroaminoto mengaku pawai budaya tahun ini lebih bagus. “Lebih variatif dari tahun kemarin. Semoga Probolinggo semakin maju terutama di bidang budaya dan pariwisata,” katanya.

Hal yang sama juga disampaikan seorang warga yang tetap bertahan hingga malam. “Saya rasa lebih bagus dari tahun kemarin. Harapan saya semoga Kota Probolingo lebih maju, lebih baik dan sejahtera,” tutur Dian.

Sementara itu, Wali Kota Dokter Aminuddin mengaku tidak menyangka animo masyarakat yang begitu besar pada Pawai Budaya dalam rangka Hari Jadi ke-667 Kota Probolinggo ini. “Masyarakat Kota Probolinggo luar biasa. Saya ucapkan terima kasih pada peserta pawai yang memberikan sajian, pagelaran, perform yang begitu apik. Saya tidak mengira setelah salah Maghrib banyak yang bubar, ternyata balik lagi dan ikut sampai selesai di nomor peserta 23,” pungkas wali kota, saat ditemui usai pawai. (dw/pin/fa)

BAGIKAN