Bunda Genre dr. Evariani Dorong Duta Genre Kota Probolinggo Jadi Influencer Positif bagi Remaja

2026

KANIGARAN – Bunda Genre Kota Probolinggo dr. Evariani Aminuddin menerima audiensi Duta Genre Kota Probolinggo Tahun 2025-2026 di Rumah Jabatan Wali Kota Probolinggo, Selasa (1/9). Audiensi tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus diskusi untuk memperkuat peran Duta Genre sebagai edukator dan penggerak bagi kalangan remaja.

Sebanyak 10 orang rombongan Duta Genre hadir didampingi Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Probolinggo dr. Lusi Tri Wahyuli. Rombongan terdiri atas empat perempuan dan enam laki-laki, yang merupakan perwakilan Duta Genre tahun 2025 dan 2026.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Probolinggo dr. Lusi Tri Wahyuli mengatakan, audiensi tersebut sengaja dilakukan untuk memberikan kesempatan kepada para Duta Genre bertemu langsung dengan Bunda Genre sekaligus menyampaikan aspirasi dan perkembangan kegiatan yang telah mereka lakukan.

Menurutnya, pertemuan tersebut diharapkan tidak berhenti pada silaturahmi, tetapi dapat memperkuat semangat para Duta Genre dalam menjalankan perannya sebagai generasi muda yang mampu memberikan edukasi kepada teman sebaya.

Dalam kesempatan tersebut, Bunda Genre dr. Evariani Aminuddin menegaskan bahwa keberadaan Duta Genre tidak boleh hanya bersifat seremonial atau sekadar menyandang predikat dan selempang. Duta Genre harus memiliki misi, kemampuan, serta program yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat, khususnya remaja.

“Harapan kita audiensi ini merupakan ajang diskusi untuk sharing tentang apa yang sebetulnya dilakukan oleh Duta Genre dan bagaimana misi ke depannya. Program Duta Genre ini bukan seremonial saja, tetapi harus ada misi yang ingin dicapai,” tegasnya.

Ia menyebut, setidaknya terdapat sejumlah isu strategis yang perlu menjadi perhatian generasi muda, mulai dari bonus demografi, pencegahan pernikahan dini, kesehatan mental, hingga penggunaan media sosial secara bijak.

“Saya tidak berharap orang cantik atau gagah, tetapi orang yang mampu mengeksekusi pekerjaan. Mampu berpikir, membuat langkah, menganalisis risiko dan menentukan tujuan yang ingin dicapai,” jelasnya.

Bunda Eva meminta setiap Duta Genre memiliki fokus isu masing-masing dan mengemasnya menjadi konten edukatif di media sosial. Menurutnya, media sosial dapat menjadi sarana efektif untuk menjangkau lebih banyak remaja tanpa harus selalu melakukan kegiatan secara tatap muka.

“Setiap Duta Genre saya wajibkan menjadi influencer positif. Tidak perlu rumit. Dari kamar pun bisa mengedukasi orang lain melalui media sosial. Satu orang satu topik, satu orang satu perubahan,” ujarnya.

Ia mencontohkan, apabila puluhan Duta Genre secara konsisten membuat konten edukasi setiap minggu, maka dalam satu tahun akan tercipta ratusan materi positif yang dapat menjadi sumber informasi bagi remaja Kota Probolinggo.

Bunda Eva juga meminta para Duta Genre memanfaatkan perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), untuk membuat materi edukasi dalam bentuk gambar, animasi, flyer maupun konten digital lainnya.

“Manfaatkan kelebihan yang ada. Setiap permasalahan yang ditemukan bisa menjadi referensi untuk membuat edukasi. Misalnya kesehatan reproduksi remaja, pencegahan pernikahan dini, bullying, narkoba, rokok, media sosial, kesehatan mental dan berbagai persoalan lain yang mengganggu masa depan remaja,” katanya.

Dalam audiensi tersebut, para Duta Genre juga memaparkan sejumlah kegiatan yang telah dilaksanakan. Di antaranya program Jelajah Edukasi Genre (JEJAK), Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), sosialisasi ke sejumlah sekolah, kegiatan konselor sebaya, hingga edukasi melalui media sosial.

Salah satu perwakilan Duta Genre, Muhammad Adiatma Arkananta Wirawan atau Arka, mengatakan kedatangan mereka bertujuan untuk berdiskusi sekaligus mendapatkan arahan mengenai pengembangan Forum Duta Genre Kota Probolinggo. 

“Kami ingin sharing dan ngobrol inspirasi bersama Bunda, sekaligus mengetahui harapan Bunda mengenai Forum Duta Genre saat ini. Kami berharap bisa mendapatkan arahan agar program-program yang kami lakukan semakin memberikan manfaat,” ungkap Arka.

Sementara itu, Duta Genre lainnya, Fadurrahman Ibrahim Akrabi atau Ibra, menceritakan pengalamannya sebagai konselor sebaya di sekolah. Ia menyebut terdapat sekitar 30 siswa yang aktif sebagai konselor sebaya dan pendidik sebaya di sekolahnya.

Menurut Ibra, keberadaan konselor sebaya menjadi ruang bagi siswa untuk menyampaikan persoalan yang terkadang sulit mereka ceritakan langsung kepada guru. 

“Ketika teman-teman membutuhkan tempat untuk curhat atau merasa malu menyampaikan kepada guru, mereka bisa datang kepada konselor sebaya. Kami berusaha menjadi jembatan bagi teman-teman yang membutuhkan tempat untuk bercerita,” ujarnya.

Ibra berharap mendapatkan pendampingan lebih lanjut untuk meningkatkan kemampuan konselor sebaya, khususnya dalam penguasaan materi dan kemampuan komunikasi.

Menanggapi hal tersebut, Bunda Eva mendorong agar program konselor sebaya terus diperkuat melalui pembekalan dan peningkatan kapasitas. Menurutnya, Duta Genre harus mampu menjadi figur yang komunikatif, edukatif dan mampu mengayomi teman sebaya.

Ia juga menekankan pentingnya setiap kegiatan memiliki ukuran keberhasilan yang jelas. Keberadaan Duta Genre, kata dia, pada akhirnya harus dapat memberikan kontribusi terhadap penurunan berbagai persoalan remaja.

“Duta Genre itu harus berdampak. Output-nya harus bisa dilihat, misalnya apakah angka pernikahan dini, putus sekolah, kenakalan remaja, penggunaan narkotika, minuman keras, vape atau rokok bisa berkurang. Dinas Kesehatan P2KB juga perlu mengevaluasi apakah ada perubahan sebelum dan sesudah adanya program Duta Genre,” tegasnya. (es/pin)

BAGIKAN