MEDAN – Hari kedua Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Pemerintah Kota Probolinggo Seluruh Indonesia (APEKSI) XVIII, digelar Dialog Kota Tangguh. Acara itu diikuti semua wali kota di Hotel Grand City Hall Medan, Rabu (1/7) pagi.
Sesuai dengan tema, dialog ini mengangkat kesiapan pemerintah kota untuk menghadapi bencana serta pascabencana dari sisi pangan.
Dialog dihadiri Wakil Menteri Kooordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq; Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas; Asisten Deputi Cadangan Pangan M. Saleh; Direktur APEKSI Alwis Rustam serta 86 wali kota dari 98 anggota APEKSI.
Dalam kesempatan itu, Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Pratikno secara virtual menyampaikan pesan kepada seluruh wali kota.
“Kami berharap dukungan wali kota untuk agenda pembangunan manusia, kesehatan, pendidikan, pembangunan keluarga, perlindungan anak, pelayanan lansia dan disabilitas, pembangunan karakter, seni dan budaya,” pesannya.
Wali kota juga diminta memanfaatkan tahun ajaran baru untuk berperan aktif dalam gerakan baru bagi masa depan anak. Yaitu, Gerakan Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak (RANA) yang telah diluncurkan beberapa waktu lalu oleh Kementerian PPPA.
“Respons berbagai ancaman keselamatan anak, fokus penciptaan ruang aman dan nyaman di tempat penting. Di sekolah, di tempat umum dan ruang digital. Wali kota punya peran krusial di kota masing-masing. Kolaborasi kuat mampu membangun Indonesia, mengubah kota lebih sehat, adil dan Sejahtera,” pesan Menko Pratikno.
Sementara itu, Wakil Menteri Kooordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq menegaskan penguatan sistem pangan dan pengelolaan sampah perkotaan sebagai fondasi kota tangguh. Kota tangguh dibangun dengan sistem pangan terintegrasi yang mencakup ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, mutu keamanan pangan, cadangan pangan dan terorganisasi.
“Kota tidak bisa bekerja sendiri, harus bersama (daerah) penyangga. Sistem ketahanan pangan, pasokan makanan terpenuhi, itu tidak sederhana. Standarisasi harga dilakukan, respon cepat, distribusi dapat dilakukan operasi pasar, gerakan pangan murah. Lakukan kolaborasi multipihak menjadi sangat penting. Kolaborasi menjadi keniscayaan yang harus dibangun dengan kuat,” ujar Wamenko Hanif.
Masih menurut Hanif, APEKSI punya posisi sangat strategis sebagai forum konsolidasi, pertukaran praktik baik dan melaksanakan kebijakan pemerintah pusat. Dari Rakernas APEKSI diharapkan ada output yang bisa ditindaklanjuti oleh Menko Bidang Pangan.
“Karena isu pangan betul-betul membutuhkan perhatian dan wajib berkolaborasi. Sesungguhnya tidak ada kota membangun ketahanan pangan sendiri. Satu kota mengkonsumsi, butuh produsen. Satu pasar besar butuh logistik. APEKSI benar-benar memperkuat jejaring antarkota yang sedang kita bangun bersama,” imbuh wamenko.
Menghadiri Dialog Kota Tangguh, Wali Kota Probolinggo Dokter Aminuddin didampingi Kepala BAPPERIDA Rey Suwigtyo, Kepala Diskominfo Lucia Aries Yulianti, Kabag Pemerintahan Rachma Nurcahyarini dan Kabag Prokopim Suciati Ningsih.
Pada kesempatan itu, Dokter Aminuddin sharing dengan sejumlah wali kota tentang kondisi kota masing-masing. Ditemui usai kegiatan, wali kota menyebut sejumlah hal yang dibahas tidak hanya tentang pangan. Tetapi segi efisiensi, kebijakan pusat yang perlu disikapi, mengangkat semua potensi di kota untuk dibuat berdaya, memperbaiki manajemen pemerintahan, memanfaatkan SDM sehingga kota bisa beradaptasi dengan situasi terkini baik di lingkungan pemerintahan, sosial, politik dan geopolitik.
“Artinya, bagaimana kota bisa secara mandiri dan berdaya mengembangkan potensinya. City branding Probolinggo Kota Bersolek yang kita punya sudah tepat. Tatanan memanfaatkan potensi penyangga wisata, seperti pelabuhan sebagai daerah transit sudah digerakkan,” jelas Dokter Amin -sapaan akrab wali kota.
Menurutnya, keberadaan perseroda, kereta komuter dan event sudah sesuai jalur dan tepat. Harapannya PAD bisa meningkat, menjadi kota secara finansial memberdayakan hasil potensi di dalamnya. (fa/pin)



