KANIGARAN – Pemerintah Kota Probolinggo bersama Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) terus memperkuat literasi keuangan masyarakat melalui pelaksanaan Gerakan Menabung Anak Sekolah Kota Probolinggo (Gemas Pro). Memasuki hari kedua, Kamis (18/6), giat ini digelar di ruang Puri Manggala Bhakti kantor Wali Kota Probolinggo.
Kegiatan yang menyasar guru, komite sekolah, organisasi perempuan dan para pemangku kepentingan pendidikan tersebut dibuka oleh Asisten Administrasi Umum (Asdum) Sekretariat Daerah (Setda) Kota Probolinggo Retno Fadjar Winarti.
Retno menegaskan bahwa menabung merupakan fondasi utama dalam membangun ketahanan ekonomi keluarga maupun masa depan generasi muda. Menurutnya, kebiasaan menabung sejak dini harus terus diperkuat melalui kolaborasi antara pemerintah, sekolah, orang tua dan lembaga jasa keuangan.
“Setiap perencanaan keuangan yang baik selalu diawali dari kebiasaan menabung. Tidak ada investasi yang berhasil tanpa disiplin menabung dan tidak ada ketahanan ekonomi keluarga tanpa kemampuan mengelola keuangan dengan baik,” ujarnya.
Tercatat, hingga April 2026 jumlah rekening Simpanan Pelajar (Simpel) di Kota Probolinggo telah mencapai lebih dari 167 ribu rekening dengan total saldo sekitar Rp37 miliar. Capaian tersebut menunjukkan tumbuhnya budaya menabung di kalangan pelajar, meski masih diperlukan upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kepesertaan dan keaktifan menabung.
Kegiatan hari kedua Gemas Pro turut menghadirkan financial planner profesional yang memberikan edukasi mengenai pengelolaan keuangan keluarga, perencanaan keuangan jangka panjang hingga strategi menyiapkan dana pendidikan dan dana hari tua.
Literasi Keuangan Masih Menjadi Tantangan
Sementara itu, Kepala OJK Malang Farid Faletehan menjelaskan bahwa tingkat literasi keuangan nasional masih perlu ditingkatkan. Berdasarkan hasil survei nasional, tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia berada di kisaran 66 persen, sedangkan tingkat inklusi keuangan mencapai sekitar 80 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya masyarakat yang telah menggunakan produk keuangan namun belum memahami manfaat, risiko maupun cara penggunaannya secara tepat.
“Kelompok usia 15 sampai 17 tahun yang terliterasi keuangan baru sekitar 51 persen. Artinya masih banyak anak-anak yang belum memahami lembaga keuangan maupun produk keuangan. Karena itu edukasi seperti Gemas Pro menjadi sangat penting,” jelasnya.
Farid menilai Kota Probolinggo termasuk daerah yang aktif menjalankan program-program TPAKD, khususnya dalam mendukung implementasi satu rekening satu pelajar. Menurutnya, capaian rekening Simpel di Kota Probolinggo menjadi modal penting dalam membentuk generasi yang lebih cakap mengelola keuangan.
Dalam paparannya, ia juga menekankan bahwa menabung bukanlah menyisihkan uang yang tersisa, melainkan menyisihkan dana terlebih dahulu secara disiplin sebelum digunakan untuk kebutuhan lainnya.
Selain mengedukasi pentingnya menabung, Gemas Pro hari kedua juga menyoroti meningkatnya ancaman kejahatan keuangan digital. Retno mengingatkan bahwa literasi keuangan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memperoleh dan mengelola uang, tetapi juga kemampuan melindungi diri dari berbagai modus penipuan.
Data yang disampaikan OJK menunjukkan hingga akhir tahun 2025 terdapat 417 laporan penipuan keuangan digital di Kota Probolinggo dengan total kerugian mencapai sekitar Rp3,64 miliar, sebagian besar berasal dari modus penipuan jual beli online.
“Angka ini menjadi pengingat bahwa masyarakat harus semakin waspada terhadap investasi ilegal, pinjaman online ilegal, penyalahgunaan data pribadi maupun berbagai bentuk penipuan transaksi digital,” katanya.
Farid pun menambahkan, masyarakat perlu mengingat satu prinsip penting, yakni tidak pernah memberikan PIN, password, kode OTP maupun data rahasia perbankan kepada siapa pun. Ia menegaskan bahwa petugas bank maupun lembaga resmi tidak akan pernah meminta informasi tersebut melalui telepon atau pesan singkat.
Untuk mempercepat penanganan korban penipuan digital, OJK juga telah membentuk Indonesia Anti Scam Center (IASC) yang memungkinkan pelaporan segera agar dana korban berpeluang diblokir sebelum berpindah ke rekening lain. (es/pin)



