Surabaya – Menjadi bagian dari Pasukan Pengibar Bendera, Paskibraka Provinsi Jawa Timur bukanlah perjalanan yang mudah. Dibutuhkan kedisiplinan, ketangguhan mental, fisik yang prima, serta semangat pantang menyerah.
Semangat itulah yang ditunjukkan dua pelajar asal Kota Probolinggo, Amelia Naghata Ivana, siswi kelas X SMK Negeri 3 Kota Probolinggo, dan Yukyno Ubaidillah Al Halik, siswa SMA Negeri 4 Kota Probolinggo.
Keduanya berhasil melewati rangkaian seleksi dan dipercaya menjadi bagian dari Paskibraka Provinsi Jawa Timur Tahun 2026. Prestasi tersebut menjadi kebanggaan tersendiri, tidak hanya bagi keluarga dan sekolah, tetapi juga bagi Kota Probolinggo.
Bagi Amelia, pencapaian tersebut terasa semakin istimewa. Ia dipercaya mengemban tugas sebagai pembawa baki pada Pasukan 8, salah satu posisi yang membutuhkan ketelitian, ketenangan, kepercayaan diri dan tanggung jawab besar dalam pelaksanaan upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Menariknya, Amelia sebelumnya juga digadang-gadang memiliki peluang untuk melanjutkan perjuangannya dalam seleksi Paskibraka tingkat nasional. Namun, langkah tersebut akhirnya belum berhasil ia tuntaskan.
Justru dari sana lah terdapat pelajaran penting bagi generasi muda. Bahwa keberhasilan tidak selalu diukur dari seberapa jauh seseorang melangkah, tetapi juga dari seberapa kuat ia mampu berdiri ketika hasil yang diharapkan belum berpihak.
“Rasanya sangat senang, terharu, juga bangga terhadap diri sendiri. Awalnya saya sempat meragukan kemampuan diri sendiri, tetapi saya tetap berusaha mencoba dan belajar supaya bisa bertugas sebagai pembawa baki,”ungkap Amelia.
Perjalanan Amelia menuju Paskibraka Jatim memang bukan sesuatu yang instan. Ada proses panjang yang harus dilalui, mulai dari seleksi hingga pemusatan latihan dengan jadwal yang sangat padat.
Selama menjalani pemusatan latihan di Asrama Haji, para calon Paskibraka harus membiasakan diri dengan pola kehidupan yang disiplin. Hari dimulai sejak dini hari.
“Jam empat pagi kami sudah bangun untuk olahraga pagi. Setelah itu bersih-bersih diri dan sarapan, kemudian dilanjutkan latihan sampai pukul 12 siang,” tuturnya.
Waktu istirahat, salat dan makan siang hanya berlangsung sekitar satu setengah jam. Setelah itu, latihan kembali dilanjutkan hingga pukul 17.00. Usai latihan, para peserta kembali bersiap dan mengikuti pembelajaran pada malam hari, mulai dari wawasan kebangsaan hingga berbagai materi lainnya.
Pemusatan di Asrama Haji berlangsung selama tiga hari. Setelah itu, para Paskibraka melanjutkan rangkaian persiapan di Gedung Negara Grahadi hingga pelaksanaan tugas pada hari H. Rangkaian panjang tersebut menjadi pengalaman berharga bagi Amelia. Di balik penampilan yang terlihat tenang dan penuh percaya diri ketika menjalankan tugas, terdapat proses latihan yang membutuhkan ketekunan dan konsistensi.Amelia pun memiliki pesan khusus bagi adik-adik pelajar yang bercita-cita mengikuti seleksi Paskibraka pada tahun-tahun mendatang.
Menurutnya, persiapan tidak boleh dilakukan secara mendadak. Calon peserta harus mulai mempersiapkan diri sejak jauh-jauh hari, baik dari sisi fisik, mental maupun pengetahuan.
“Untuk adik-adik calon Paskibraka selanjutnya, persiapan tes mulai dicicil dari jauh-jauh hari sebelum tes. Karena kalau persiapan kita matang, tidak menutup kemungkinan kita bisa tembus provinsi ataupun pusat,” pesannya.
Pesan tersebut menjadi refleksi penting bahwa prestasi membutuhkan persiapan panjang. Tidak cukup hanya mengandalkan keberanian saat mengikuti seleksi, tetapi juga membutuhkan latihan, kedisiplinan dan kemauan untuk terus memperbaiki diri.
Semangat serupa juga tercermin dari Yukyno Ubaidillah Al Halik. Sebagai pelajar SMA Negeri 4 Kota Probolinggo, keberhasilannya menembus Paskibraka Jawa Timur menjadi bukti bahwa anak-anak muda Kota Probolinggo memiliki potensi besar untuk berprestasi di tingkat yang lebih tinggi.
Kisah Amelia dan Yukyno sekaligus menjadi gambaran bahwa kesempatan besar lahir dari keberanian untuk mencoba. Tidak semua orang yang mengikuti seleksi akan sampai pada tahap akhir, tetapi mereka yang berani mengikuti proses telah selangkah lebih maju untuk mengenali potensi dirinya.
Prestasi tersebut juga menunjukkan bahwa putra-putri daerah tidak perlu merasa rendah diri untuk bermimpi besar. Dari sekolah di Kota Probolinggo, mereka dapat berdiri sejajar dengan pelajar terbaik dari berbagai daerah di Jawa Timur.(yul/pin)



