Jadi Momen Konsultasi Kesehatan, Dokter Aminuddin: Pelayanan Lansia Tanggung Jawab Bersama

2026

KANIGARAN - Di sela kunjungan ke Panti Tresna Wreda Muhammadiyah Kota Probolinggo, Selasa (8/9), Wali Kota Dokter Aminuddin membuka ruang dialog. Suwati, seorang lansia kelahiran 1952, yang mengeluhkan tentang konsumsi obat. Suwati mengaku memiliki sejumlah penyakit seperti diabetes, tekanan darah tinggi dan nyeri, serta selama beberapa tahun mengonsumsi beberapa jenis obat.

Ia kemudian mengurangi sendiri konsumsi obat diabetes dan obat nyeri karena khawatir penggunaan dalam jangka panjang menimbulkan efek lain. Saat tidak meminum obat, diketahui diabetesnya tinggi dan diminta mengkonsumsi obat kembali.

Menanggapi hal tersebut, Aminuddin mengingatkan agar penggunaan obat, khususnya bagi lansia, tetap mengikuti aturan dokter. Ia menekankan bahwa obat tidak sebaiknya dihentikan secara tiba-tiba, melainkan dikurangi secara bertahap apabila memang secara medis diperlukan.

“Untuk obat-obatan yang penting saja. Kalau memang obatnya untuk penyakit darah tinggi, ikuti aturan dokter. Jangan langsung dihentikan. Kalau mau dikurangi, pelan-pelan,” jelasnya.

Ia juga memberikan perhatian khusus terhadap penggunaan obat antinyeri. Menurutnya, keluhan nyeri pada usia lanjut merupakan hal yang cukup umum, tetapi konsumsi obat antinyeri sebaiknya tidak dilakukan secara berlebihan dan tetap berdasarkan arahan tenaga medis.

Selain obat, Aminuddin mengingatkan pentingnya menjaga berat badan. Bertambahnya berat badan pada usia lanjut, menurutnya, dapat meningkatkan beban kerja organ-organ vital seperti jantung, ginjal, hati dan paru-paru.

“Yang paling penting sampai kapan pun itu berat badan jangan bertambah. Karena begitu berat badan bertambah, beban organ jantung, liver, ginjal dan paru-paru juga meningkat,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Panti Tresna Wreda Muhammadiyah Kota Probolinggo, Ratna, menyampaikan apresiasi atas kunjungan Dokter Aminuddin. Ia mengatakan, kunjungan tersebut menjadi dukungan moral bagi pengurus yang setiap hari menghadapi berbagai persoalan dalam merawat para lansia.

Ratna menjelaskan, saat ini panti menampung 17 orang lansia dengan kapasitas kamar masing-masing dihuni dua orang. Tantangan terbesar dalam pelayanan adalah merawat penghuni yang mengalami demensia serta membutuhkan pendampingan lebih intensif.

Ia juga menyampaikan kondisi bangunan panti yang membutuhkan perhatian dan rencana pengembangan kapasitas. Menurutnya, cukup banyak masyarakat yang ingin menitipkan anggota keluarganya, namun belum seluruhnya dapat diterima karena keterbatasan kapasitas.

Ratna berharap ada dukungan dari pemerintah maupun berbagai pihak untuk membantu rehabilitasi dan penambahan ruangan panti. Terlebih, sebagian besar penghuni mendapatkan layanan tanpa biaya sehingga kebutuhan operasional dan tenaga pengasuh menjadi tantangan tersendiri.

Menanggapinya, wali kota menyatakan Pemkot Probolinggo akan melihat peluang dukungan untuk pengembangan sarana panti, termasuk rehabilitasi fisik. Ia juga membuka peluang kolaborasi dengan Muhammadiyah dan Baznas untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari para penghuni. “Kalau ada program, nanti kita lihat untuk rehabilitasi fisik. Bisa juga dari Muhammadiyah dan Baznas membantu, terutama kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Di akhir kunjungan, tak lupa Aminuddin mengajak seluruh pihak untuk memandang pelayanan lansia sebagai tanggung jawab bersama. Menurutnya, setiap orang pada akhirnya akan memasuki usia lanjut sehingga persiapan untuk menghadapi fase tersebut perlu dilakukan sejak sekarang.

“Kita suatu saat juga akan berada pada posisi seperti bapak-bapak dan ibu-ibu yang hadir di sini. Kita harus mempersiapkan segala sesuatunya agar umur yang diberikan kepada kita menjadi umur yang barokah,” pungkasnya.

Pada kesempatan itu, Wali Kota Dokter Aminuddin bersama rombongan meninjau kondisi panti. Ia melihat kamar-kamar penghuni yang beberapa diantaranya membutuhkan rehab bangunan. Ia juga bertemu dengan lansia yang terpaksa berada di kamar karena demensia. (es/fa)

BAGIKAN