MAYANGAN - Kota Probolinggo mendapat kehormatan menjadi tuan rumah Festival Mangrove Jawa Timur ke-11, di Bee Jay Bakau Resort (BJBR) Selasa (3/11). Momentum yang menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur ini sekaligus memperkuat komitmen Pemerintah Kota Probolinggo dalam menjaga kelestarian ekosistem pesisir.
Kegiatan yang diawali dari Pendapa Kabupaten Probolinggo di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Kota Probolinggo tersebut dihadiri Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Wali Kota Probolinggo Dokter Aminuddin, Bupati Probolinggo Gus Haris, serta Wakil Kepala Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) Mayjen TNI Sriyanto. Rombongan menuju Kawasan wisata Bee Jay Bakau Resort (BJBR) menggunakan motor Listrik.
Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur atas kepercayaan yang diberikan kepada Kota Probolinggo sebagai lokasi penyelenggaraan festival. Menurutnya, kegiatan ini menjadi penyemangat bagi pemerintah daerah untuk terus meningkatkan luasan tutupan mangrove di sepanjang garis pantai Kota Probolinggo.
Wali kota mengungkapkan, saat ini kawasan mangrove di Kota Probolinggo telah mencapai sekitar 120 hektare dari potensi luasan kurang lebih 150 hektare. Dalam dua tahun terakhir, penambahan tutupan mangrove mencapai sekitar 30 hektare.
“Kurang lebih 80 persen garis pantai atau coastal line Kota Probolinggo sudah memiliki tutupan mangrove. Kami memiliki lima kelompok kawasan mangrove dan berkomitmen untuk terus meningkatkan cakupannya hingga 100 persen,” ungkapnya.
Komitmen tersebut, lanjut Aminuddin, sejalan dengan program Lestari Mangrove yang menjadi salah satu agenda Gubernur Jawa Timur dalam RPJMD hingga 2029. Pemerintah Kota Probolinggo turut mengintegrasikan upaya pelestarian tersebut melalui program Bersolek.
Wali Kota Aminuddin yang juga merupakan dokter obgyn ini menegaskan, Pemkot Probolinggo bersama Pemerintah Kabupaten Probolinggo bersepakat untuk terus berkolaborasi dalam menjaga dan mengembangkan kawasan mangrove. Dukungan dari kelompok masyarakat, komunitas lingkungan, dunia usaha, hingga organisasi nonpemerintah juga dinilai penting agar upaya konservasi memberikan manfaat yang lebih luas.
Aminuddin juga menyampaikan bahwa potensi mangrove kini semakin mendapat perhatian dunia, bukan hanya karena fungsinya menjaga ekosistem pesisir, tetapi juga nilai ekonomi dan kemampuannya menyerap karbon. Bahkan, satu hektare mangrove diperkirakan memiliki nilai ekonomi mencapai Rp1 miliar hingga Rp1,5 miliar.
Hal tersebut turut menjadi salah satu perhatian yang dibawanya saat mengikuti United Nations Biodiversity Conference di Armenia. Dalam forum internasional tersebut, ia berkesempatan memperkenalkan potensi mangrove Jawa Timur, yang memiliki tutupan terbesar di Pulau Jawa dengan kontribusi sekitar 46 persen.
“Ke depan, mangrove akan menjadi perhatian dunia. Karena itu, kami berharap para penggiat dan kelompok masyarakat yang selama ini dengan tulus melakukan penanaman serta perawatan mangrove mendapatkan perhatian dan dukungan yang lebih besar,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur Jumadi melaporkan bahwa luasan mangrove di Jawa Timur menunjukkan tren peningkatan. Dari 27.221 hektare pada 2021, luasnya bertambah menjadi 31.067 hektare pada 2025 atau meningkat 3.846 hektare dalam empat tahun.
Capaian tersebut menjadikan Jawa Timur sebagai provinsi dengan tutupan mangrove terbesar di Pulau Jawa, dengan kontribusi hampir 50 persen dari total luasan regional.
Apresiasi terhadap pengelolaan mangrove di wilayah Probolinggo juga disampaikan Wakil Kepala BPGMN Mayjen TNI Sriyanto. Ia menilai kondisi kawasan mangrove di Probolinggo sangat baik, termasuk keterlibatan masyarakat dalam menjaga sekaligus mengembangkan potensi ekonomi kawasan pesisir.
Bahkan, pihaknya berencana mengusulkan Probolinggo sebagai lokasi penyelenggaraan Festival Mangrove tingkat nasional agar praktik baik pengelolaan mangrove di wilayah ini dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, Sriyanto juga meluncurkan Sagara (Sistem Informasi Gambut dan Mangrove Nusantara), sebuah platform digital terpadu yang berfungsi sebagai pusat data, pusat pengetahuan, sekaligus sarana pengaduan publik untuk memperkuat perlindungan ekosistem gambut dan mangrove nasional.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dalam sambutannya menegaskan bahwa Festival Mangrove bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bentuk nyata sedekah oksigen bagi bumi. Ia mengingatkan bahwa pelestarian mangrove harus dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari pembibitan, perawatan intensif, perluasan kawasan, hingga hilirisasi produk turunan mangrove yang memiliki nilai ekonomis.
Khofifah juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menanam kebaikan dan menjaga alam, sebagaimana pesan Rasulullah SAW agar manusia tetap menanam sekalipun mengetahui hari kiamat akan segera tiba.
Semangat pelestarian tersebut diwujudkan melalui aksi penanaman mangrove bersama yang melibatkan para pejabat dan peserta festival. Kegiatan juga diisi dengan pelepasliaran 300 bibit kepiting dan 100 burung tekukur sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan ekosistem.
Panglima Potlot Serukan Jaga Lingkungan
Suasana festival semakin semarak dengan kehadiran Kaka Slank, musisi sekaligus pegiat lingkungan yang dikenal memiliki kepedulian terhadap pelestarian alam. Kaka turut menghibur peserta dengan membawakan sejumlah lagu yang membuat suasana siang itu semakin meriah.
“Saudara-saudara ku di Probolingo ayo kenalan sama mangrove, kenalan sama bakau. Apa manfaat (mangrove), fungsinya di dunia dan apa yang bisa kita ambil dari penanaman dan merawat mangrove. Yang jelas, mangrove ga boleh hilang dari pesisir. Insyaallah mangrove di Jawa Timur makin lebat. Bismillah,” kata Kaka.
Selama berada di Festival Mangrove ke-11 di Probolinggo, pemilik nama asli Akhadi Wira Satriaji ini mengaku bertemu banyak orang, banyak teman baru yang special dan smart serta menambah inspirasinya. Ia pun mengaku saat ini sedang menikmati kebiasaannya menanam pohon, khususnya di pesisir laut.
“Ternyata prestasi Probolinggo soal mangrove ini super top. Hari ini kita menanam sebuah legacy yang akan kita nikmati in the future. Slankers Probolinggo harus ikut merawat ini. Ini amanat langsung dari Panglima ya, Panglima Potlot maksudnya,” seru Kaka disambut tepuk tangan riuh audiens yang hadir, tak terkecuali penggemar Slank.
Pada kesempatan yang sama, Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga menerima penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Penghargaan tersebut dianugerahkan dengan bangga kepada Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa atas rekor Pemrakarsa Festival Mangrove secara seri terbanyak, yakni 10 kali di 10 kabupaten dan kota dalam kurun waktu lima tahun.
Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi atas konsistensi Pemprov Jawa Timur dalam menginisiasi gerakan pelestarian mangrove secara berkelanjutan. Penyelenggaraan festival dari satu daerah ke daerah lainnya juga menjadi ruang kolaborasi untuk memperluas kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam menjaga ekosistem pesisir.
Bagi Pemerintah Kota Probolinggo, penyelenggaraan Festival Mangrove Jatim XI bukan sekadar kehormatan, tetapi juga momentum untuk memperkuat langkah menuju target tutupan mangrove 100 persen di sepanjang garis pantai kota. Dengan kolaborasi dan dukungan seluruh elemen masyarakat, komitmen menjadikan Probolinggo sebagai kota yang semakin lestari diharapkan dapat terwujud. (sit/fa)
