Juanda Menari Night Carnival ke-10, Warga Tisnonegaran Berpesta Seni dan Budaya

2026

KANIGARAN – Malam minggu di Tisnonegaran terasa berbeda, Sabtu (26/9). Jalan Arif Rahman Hakim – Jalan Juanda hingga Jalan Letjen Sutoyo menjelma menjadi panggung penuh warna-warni kostum, gerak tari, tabuhan dan musik tradisional juga modern. Dari satu penampilan ke penampilan berikutnya, warga disuguhi kemeriahan Juanda Menari Night Carnival ke-10.

Memasuki satu dekade penyelenggaraan, Juanda Menari tahun ini hadir dengan tema “Merajut Seni, Menyulam Budaya untuk Probolinggo Bersolek”. Sebanyak 13 peserta ikut ambil bagian, melibatkan berbagai elemen masyarakat di Kelurahan Tisnonegaran.

Bukan sekadar parade, Juanda Menari menjadi ruang bagi warga untuk menunjukkan kreativitas sekaligus memperkenalkan kekayaan seni dan budaya yang tumbuh di lingkungannya.

Kemeriahan terlebih dahulu diwarnai dengan pengumuman pemenang lomba kebersihan lingkungan di wilayah Kelurahan Tisnonegaran. Lomba tersebut menjadi bagian dari semangat warga untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan nyaman, sejalan dengan semangat Probolinggo Kota Bersolek.

Berdasarkan hasil penilaian dewan juri, RT 3 RW 6 keluar sebagai juara pertama; sementara RT 2 RW 2 meraih juara kedua. Para pemenang menerima penghargaan secara langsung dari Wali Kota Probolinggo Dokter Aminuddin yang hadir malam itu.

Ketua Pokmas Guyub Rukun Saklawase, Hariyanto, mengatakan Juanda Menari menjadi salah satu ruang bagi masyarakat untuk memperkenalkan potensi seni budaya yang dimiliki Kelurahan Tisnonegaran.

“Tujuan utama acara ini adalah mempromosikan budaya yang ada di Kelurahan Tisnonegaran. Di sini banyak sanggar seni yang memiliki potensi dan perlu kita promosikan melalui Juanda Menari. Kami memberikan ruang kepada para pelaku seni untuk menunjukkan kreativitasnya sekaligus memperkenalkan potensi budaya yang dimiliki kepada masyarakat lebih luas,” ujarnya.

Menurut Hariyanto, kekuatan Juanda Menari terletak pada keterlibatan masyarakat. Sekolah, komunitas seni budaya, sanggar hingga semua warga ikut ambil bagian. “Harapannya, kegiatan ini dapat terus berlanjut dan semakin berkembang. Bukan hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi wadah bagi masyarakat untuk berkarya, melestarikan budaya, serta memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk meneruskan seni budaya yang ada,” imbuhnya.

Malam itu, Juanda Menari juga mendapat apresiasi dari Wali Kota Probolinggo Dokter Aminuddin yang hadir bersama Wakil Wali Kota Ina Dwi Lestari dan Ketua TP PKK Kota Dokter Evariani Aminuddin. Hadir pula Sekretaris Daerah Budiono Wirawan, sejumlah kepala perangkat daerah, Camat Kanigaran beserta jajaran Forkopimcam.

Wali kota mengaku terkesan melihat kemeriahan Juanda Menari yang telah memasuki penyelenggaraan ke-10. “Juanda Menari Night Carnival yang ke-10 ini luar biasa. Sepanjang mata memandang, saya melihat persiapan yang begitu besar dari seluruh warga,” ungkapnya.

Menurutnya, tema “Merajut Seni, Menyulam Budaya” sangat tepat karena sejalan dengan upaya Pemerintah Kota Probolinggo untuk terus memperkuat seni dan budaya.

“Ini bukan hanya menampilkan berbagai macam kesenian, tetapi juga bagaimana Tisnonegaran mampu mengangkat potensi-potensi orisinal yang dimiliki sehingga mampu menghadirkan dan melakukan regenerasi,” tuturnya.

Regenerasi tersebut, lanjut wali kota, terlihat dari banyaknya anak muda yang tampil dalam gelaran malam itu. Mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut mengambil peran sebagai pelaku seni dengan bimbingan para senior.

“Kita lihat para penari merupakan anak-anak muda yang dibimbing oleh para seniornya dan mampu menghasilkan penampilan yang luar biasa. Sekali lagi, tepuk tangan untuk kita semua,” kata Dokter Aminuddin.

Ia juga menyoroti keberagaman budaya yang hadir dalam Juanda Menari. Tidak hanya menampilkan budaya Jawa, sejumlah peserta membawa warna budaya dari daerah lain, termasuk keterlibatan anak-anak asal Sorong Papua. “Ini menandakan bahwa kebinekaan betul-betul terjadi juga di dalam lingkup yang kecil (kelurahan),” ujarnya wali kota yang mendukung keberlanjutan gelaran tahunan ini.

Setelah secara resmi dibuka oleh wali kota dengan ditandai pemukulan gong, parade pun bergerak menyusuri rute dari Jalan Arif Rahman Hakim menuju Jalan Juanda dan berakhir di Jalan Letjen Sutoyo. Satu per satu peserta tampil membawa kreasi terbaiknya.

Ada yang mengandalkan kekuatan tari tradisional, ada pula yang memadukannya dengan sentuhan modern. Kostum etnik yang penuh warna, iringan tabuhan, dan musik modern membuat suasana semakin hidup. Sepanjang rute, warga berdiri di sisi jalan, menyaksikan sekaligus memberikan dukungan kepada para peserta.

Sepuluh tahun berjalan, Juanda Menari telah menjadi lebih dari sekadar karnaval malam. Ia tumbuh menjadi ruang perjumpaan warga, panggung bagi para pelaku seni, sekaligus tempat generasi muda belajar mengenal dan meneruskan budaya di lingkungannya. (mir/fa)

BAGIKAN