Ketua TP PKK Kota Probolinggo Dorong Ekonomi Keluarga Lewat Inovasi Suvenir Kain Perca Batik

2026

KANIGARAN – Ketua TP PKK Kota Probolinggo, Dokter Evariani, membuka secara resmi Pelatihan Pembuatan Suvenir Berbahan Kain Perca Batik, Selasa (7/4) di Rumah Batik, Jalan Mastrip. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya strategis dalam mendorong pemberdayaan masyarakat berbasis keterampilan kreatif sekaligus penguatan ekonomi keluarga.

Dokter Evariani menegaskan bahwa kunci keberhasilan pemberdayaan UMKM terletak pada kolaborasi lintas lembaga yang terintegrasi. Ia menyebut, pelatihan ini bukan sekadar kegiatan peningkatan keterampilan, melainkan bagian dari pembangunan ekosistem ekonomi kreatif berbasis komunitas.

“Kolaborasi strategis antar lembaga harus terus kita perkuat. Melalui sinergi sumber daya, pelatihan keterampilan, dan akses pasar yang terintegrasi, kita ingin masyarakat mampu mengolah limbah tekstil menjadi produk bernilai ekonomi tinggi,” ujarnya.

Kolaborasi tersebut melibatkan Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan (DKUP) Kota Probolinggo, dan Tim Penggerak PKK. DKUP memberikan dukungan anggaran melalui APBD, sementara PKK melalui Pokja 2 menggerakkan masyarakat hingga ke tingkat akar rumput melalui kelompok Dasa Wisma.

Pelatihan ini mengutamakan praktik langsung bagi peserta, di mana peserta yang terdiri dari kader PKK se-Kota Probolinggo ini, langsung dilatih mengolah limbah kain perca menjadi produk kreatif. Dalam kegiatan ini menghadirkan narasumber dari UD Griya Srikandi sekaligus mitra dalam pengelolaan hasil produksi.

“Dari limbah yang sering dianggap tidak bernilai, kita dorong menjadi produk unggulan yang memiliki daya saing. Inilah bentuk inovasi kreatif yang harus terus dikembangkan,” tambah Evariani.

Lebih dari itu, dukungan terhadap pemasaran produk turut diperkuat. Melalui Dekranasda dan Rumah Batik, produk hasil pelatihan akan dipajang di galeri atau showroom, serta dipromosikan melalui katalog yang menyasar pasar lebih luas, termasuk vendor pernikahan. Skema ini membuka peluang kemitraan berkelanjutan, sehingga peserta memiliki jalur distribusi yang jelas setelah pelatihan selesai.

“Dengan adanya galeri dan katalog promosi, kita membuka akses pasar yang lebih luas. Produk masyarakat harus bisa menembus pasar, tidak berhenti di pelatihan saja,” jelasnya.

Pemanfaatan kain perca batik sendiri dinilai memiliki potensi ekonomi yang signifikan. Selain meningkatkan nilai tambah dari limbah tekstil, produk yang dihasilkan dapat beragam, mulai dari suvenir pernikahan, aksesoris fashion, hingga cendera mata khas daerah. Hal ini tidak hanya membuka peluang usaha baru, tetapi juga memperkuat identitas ekonomi lokal.

Dalam konteks pemberdayaan masyarakat, peran PKK menjadi sangat krusial sebagai ujung tombak di tingkat keluarga dan lingkungan masyarakat. Melalui kelompok ini, keterampilan yang diperoleh dari pelatihan dapat disebarluaskan, dipraktikkan secara berkelanjutan, serta dikembangkan menjadi usaha bersama yang mampu memenuhi kebutuhan pasar dalam skala lebih besar.

“Kita ingin kader PKK tidak hanya aktif secara sosial, tetapi juga produktif secara ekonomi. Dari sinilah lahir industri rumah tangga yang kuat dan berkelanjutan,” tegas ketua TP PKK.

Dengan pendekatan berbasis komunitas tersebut, pemberdayaan tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga menciptakan perputaran ekonomi yang lebih luas di masyarakat. Setiap aktivitas sosial diarahkan menjadi kegiatan produktif yang memberikan nilai tambah bagi kesejahteraan keluarga.

Sementara itu, Kepala Bidang Usaha Kecil dan Mikro pada DKUP, Sri Lestari, menyampaikan bahwa pelatihan ini diikuti oleh 50 kader PKK. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan keterampilan kreatif peserta sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan limbah kain perca batik menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi dan memiliki daya saing pasar.

Selain itu, kegiatan ini juga dirancang untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan serta mendorong lahirnya produk khas daerah yang inovatif. “Pelatihan ini merupakan langkah strategis pemerintah daerah dalam memberikan pemberdayaan sekaligus perlindungan ekonomi bagi pelaku usaha mikro. Harapannya, para peserta tidak hanya terampil, tetapi juga mampu mengembangkan usaha secara mandiri dan berkelanjutan,” ungkapnya.

Secara keseluruhan, kegiatan ini mencerminkan komitmen Pemerintah Kota Probolinggo dalam membangun kemandirian ekonomi berbasis komunitas, kreativitas, dan keberlanjutan. Diharapkan, dari pelatihan ini akan lahir pelaku UMKM baru yang inovatif, berdaya saing, serta mampu memperkuat ekonomi lokal Kota Probolinggo. (mir/fa)

 

BAGIKAN