Kota Probolinggo Kehilangan Ulama Kharismatik, Dokter Aminuddin: Petuah Beliau Akan Selalu Saya Kenang

2026

KEDOPOK – Kota Probolinggo kembali diselimuti duka. KH Abdul Aziz Rahmatullah atau yang dikenal KH Abdul Aziz RM, salah satu ulama kharismatik dan tokoh agama berpengaruh di Kota Probolinggo wafat pada usia 57 tahun, Senin (21/9) sekitar pukul 20.00 WIB.

Almarhum mengembuskan napas terakhir di kediamannya di Jalan Prof. Hamka, Kelurahan Kareng Lor, Kecamatan Kedopok. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga dan keluarga besar Pondok Pesantren As-Sanusiyah, tetapi juga bagi para santri, alumni, tokoh agama, serta masyarakat Kota Probolinggo. Tak terkecuali Wali Kota Probolinggo Dokter Aminuddin. 

Di balik kepergiannya yang mendadak, tersimpan kisah tentang sosok yang sepanjang hidupnya mendedikasikan diri untuk ilmu, dakwah dan Al-Qur’an. KH Abdul Aziz RM dikenal sebagai hafidz Al-Qur’an sekaligus penerus pengasuh Pondok Pesantren As-Sanusiyah. Kiprahnya dalam pengembangan tilawah dan qira’at juga telah mengantarkannya dipercaya dalam berbagai kegiatan MTQ, termasuk sebagai dewan hakim MTQ tingkat nasional.

Di Kota Probolinggo, almarhum dipercaya sebagai Ketua Badan Pengelola Masjid Agung Raudlatul Jannah dan Ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ). Melalui peran tersebut, ia aktif membina generasi muda, mengembangkan kegiatan Al-Qur’an dan mendorong lahirnya generasi pecinta Al-Qur’an.

Bagi keluarga, kepergian almarhum terasa begitu cepat. Sang istri, Nyai Khoirotul Uztadziyah, bersama empat anaknya kehilangan sosok suami dan ayah sekaligus panutan keluarga. Ia menceritakan, dalam sepekan terakhir, aktivitas almarhum masih sangat padat. Selain menjalankan tugas sebagai dewan hakim nasional MTQ, ia juga mengikuti berbagai kegiatan keagamaan dan roadshow khotmil Qur’an di sejumlah tempat.

Di tengah padatnya aktivitas tersebut, kondisi tubuh almarhum mulai mengalami kelelahan. Keluarga menuturkan, almarhum sempat dipanggilkan tukang pijat selama beberapa menit. Setelah itu, ia berpamitan menuju kamar mandi sebelum akhirnya ditemukan sedang tidur di kamar.

Tidak lama kemudian, almarhum dinyatakan telah meninggal dunia setelah sempat dilarikan di RSUD Ar- Rozy. Bagi keluarga, momen tersebut menjadi kenangan terakhir yang begitu membekas. Almarhum berpulang setelah berpamitan untuk menjalankan ibadah salat Isya.

Sosok Peduli Pengembangan Kegiatan Keagamaan dan Pencetak Generasi Pecinta Al-Qur’an

Kabar wafatnya KH Abdul Aziz RM turut membawa duka mendalam bagi Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin. Selasa (22/9) pagi, wali kota bersama istri, dr. Evariani, datang langsung ke rumah duka untuk menyampaikan belasungkawa dan memberikan penghormatan terakhir. Melakukan salat jenazah dan membacakan tahlil bersama kepala perangkat daerah yang turut mendampingi. 

Bagi Dokter Aminuddin, KH Abdul Aziz RM bukan hanya seorang ulama. Ia merupakan sosok yang memiliki tempat khusus dalam perjalanan kehidupan dan kepemimpinannya. “Ulama besar di Kota Probolinggo, almarhum KH Abdul Aziz RM, merupakan kiai yang karismatik. Beliau adalah tokoh yang sangat berpengaruh dalam perjalanan kehidupan saya. Banyak petuah dan nasihat beliau sampaikan kepada saya, mulai dari pencalonan, deklarasi, kemenangan, sampai saat ini,” kenangnya.

Yang membuat kepergian itu terasa semakin mengejutkan, menurut wali kota, adalah karena siang harinya, Senin (21/9), dirinya masih bertemu dan beraktivitas bersama almarhum dalam pembukaan MTQ ke-32 Kota Probolinggo.

Bersama almarhum, wali kota juga telah membicarakan sejumlah rencana pengembangan keagamaan di Kota Probolinggo, termasuk pengembangan Masjid Agung Raudlatul Jannah pada 2026. “Banyak hal yang sudah kami rancang bersama. Banyak pula nasihat dan petuah beliau yang disampaikan kepada saya. Ini merupakan kehilangan yang besar, khususnya bagi saya,” katanya.

Wali kota juga menyampaikan doa agar seluruh amal ibadah, pengabdian dan kebaikan almarhum mendapatkan ridha Allah SWT. “Semoga beliau mengakhiri perjalanan hidupnya dalam keadaan husnul khatimah. Semoga Allah SWT menempatkan beliau di tempat terbaik,” sambungnya.

Wali kota pun mengajak seluruh masyarakat Kota Probolinggo untuk bersama-sama mengirimkan doa bagi almarhum.“Mari turut mendoakan beliau. Semoga almarhum ditempatkan di sisi Allah SWT di tempat yang terbaik, diampuni segala dosa-dosanya, dan diterima seluruh amal ibadah serta pengabdiannya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan,” tutur Dokter Aminuddin lagi. 

Duka juga disampaikan Wakil Wali Kota Probolinggo Ina Dwi Lestari. Didampingi suaminya, Muhammad Yusuf, ia bertakziah ke rumah duka setelah salat Dhuhur. Ia mengenang KH Abdul Aziz RM sebagai sosok kiai yang tidak hanya memiliki ilmu, tetapi juga mendedikasikan hidupnya untuk mencetak generasi pecinta Al-Qur’an.

“Beliau sosok kiai yang karismatik, hafidz Al-Qur’an dan banyak mencetak generasi pecinta Al-Qur’an. Beliau juga membimbing mereka dalam berbagai kegiatan MTQ,” ungkap Ina.

Menurutnya, kiprah almarhum dalam pengembangan tilawah dan qira’at telah memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan potensi Al-Qur’an di Kota Probolinggo. Ina juga mengenang keterlibatan almarhum dalam berbagai aktivitas yang mendukung kepemimpinan ayahnya, HM Buchori, saat menjabat sebagai Wali Kota Probolinggo. “Beliau memiliki perhatian besar terhadap kehidupan keagamaan dan pembinaan generasi muda di Kota Probolinggo,” tuturnya.

Jenazah KH Abdul Aziz RM dimakamkan selepas salat Dhuhur di makam keluarga yang berada di area pekarangan Pondok Pesantren As-Sanusiyah. Para santri, alumni, ulama, tokoh agama, tokoh masyarakat dan masyarakat umum hadir mengiringi perjalanan terakhir almarhum.

Kepergian KH Abdul Aziz Rahmatullah meninggalkan ruang duka yang mendalam. Namun, warisan ilmu, keteladanan dan kecintaannya terhadap Al-Qur’an akan terus hidup melalui para santri dan generasi yang pernah mendapatkan bimbingannya. (yul/fa)

BAGIKAN