Kota Probolinggo Optimis Raih STBM Awards 2026 Kategori Paripurna

2026

KANIGARAN – Pemerintah Kota Probolinggo mengikuti verifikasi lanjutan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Awards 2026 untuk kategori Paripurna, Kamis (10/9), di Command Center. Setelah sebelumnya berhasil mencapai kategori Madya, tahun ini Kota Probolinggo menjadi salah satu daerah di Jawa Timur yang berpeluang naik ke kategori tertinggi, yakni Paripurna.

Verifikasi dilakukan untuk melihat sejauh mana komitmen dan implementasi Pemerintah Kota Probolinggo dalam memenuhi lima pilar STBM, meliputi Stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS), Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga, Pengelolaan Sampah Rumah Tangga, serta Pengelolaan Limbah Cair Rumah Tangga. Selain capaian lima pilar, penilaian juga mencakup dukungan kebijakan, keterlibatan masyarakat, inovasi, serta keberlanjutan program yang telah dilaksanakan pemerintah daerah.

Wali Kota Probolinggo Dokter Aminuddin menyampaikan bahwa berbagai program yang selama ini dijalankan Pemkot Probolinggo memiliki keterkaitan erat dengan upaya mewujudkan sanitasi yang sehat sekaligus lingkungan kota yang bersih dan nyaman.

Salah satu upaya yang dilakukan Pemkot Probolinggo untuk menjaga kebersihan lingkungan dan saluran drainase adalah melalui program Gotku Resik. Pemkot Probolinggo bahkan meningkatkan dukungan anggaran secara signifikan untuk memastikan saluran drainase tidak dipenuhi sampah dan endapan.

“Ini bagian dari komitmen kami untuk mewujudkan Kota Probolinggo bebas banjir. Sebagian drainase kita tertutup oleh sampah dan endapan. Karena itu, keterlibatan masyarakat menjadi sangat penting,” jelasnya.

Pada aspek pengelolaan sampah, wali kota menjelaskan bahwa Kota Probolinggo terus memperkuat sistem pengelolaan sampah, termasuk di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang telah menerapkan sistem sanitary landfill. Pemkot juga tengah mempersiapkan kerja sama dengan pihak ketiga untuk pembangunan fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) sebagai bagian dari solusi pengelolaan sampah.

“Produksi sampah kita hampir 120 ton per hari. Ini akan kita selesaikan secara bertahap melalui berbagai program dan kerja sama dengan pihak ketiga,” terangnya.

Pemanfaatan sampah organik juga terus dikembangkan, salah satunya melalui budidaya magot. Sampah organik dari sejumlah sumber, termasuk dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG), diarahkan untuk dimanfaatkan sebagai pakan magot sehingga memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.

Penguatan pengelolaan sampah juga dilakukan di tingkat masyarakat melalui bank sampah. Setiap RW terus didorong memiliki sarana pengelolaan sampah, termasuk fasilitas pengangkutan. Sampah yang dikumpulkan masyarakat juga dapat ditukar dengan kebutuhan pokok melalui berbagai skema kerja sama.

Sementara itu, untuk pilar cuci tangan pakai sabun, Pemkot Probolinggo terus memastikan tersedianya sarana cuci tangan di berbagai fasilitas publik. Sejumlah inovasi juga telah diterapkan, termasuk fasilitas cuci tangan berbasis sensor yang lebih praktis dan higienis.

Untuk pilar Stop BABS, Kota Probolinggo telah mencapai status Open Defecation Free (ODF). Sementara pada pengelolaan limbah cair, pemerintah daerah terus mendorong masyarakat maupun pelaku usaha agar memastikan limbah yang dihasilkan tidak mencemari lingkungan.

“Kita sedang mengembangkan laboratorium lingkungan di Kota Probolinggo. Industri, rumah sakit, fasilitas pelayanan kesehatan, pelaku usaha, termasuk dapur MBG, akan kita dorong untuk secara berkala memeriksa kualitas air dan limbahnya,” jelasnya.

Wali kota juga menekankan bahwa sanitasi tidak hanya berbicara tentang kebersihan, tetapi juga menyangkut kualitas kesehatan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan. Karena itu, berbagai inovasi dikembangkan dengan melibatkan masyarakat, dunia usaha dan sejumlah mitra.

Ia menambahkan, semangat membangun lingkungan yang bersih dan nyaman tersebut sejalan dengan program Probolinggo Kota Bersolek, yang menempatkan aspek bersih dan elok sebagai bagian penting dalam pembangunan kota.

“Bersolek itu salah satunya adalah bagaimana kota ini menjadi bersih dan elok. Jadi, program-program sanitasi ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya tersebut,” katanya.

Hanya Dua Daerah di Jatim Berpeluang Paripurna

Kepala Dinas Kesehatan PPKB Kota Probolinggo, Dokter Intan Sudarmadi, menjelaskan bahwa STBM memiliki beberapa kategori penilaian. Kota Probolinggo sebelumnya telah berhasil mencapai kategori dasar kemudian madya. Tahun ini, daerah yang telah mencapai kategori madya diarahkan untuk mengikuti penilaian kategori Paripurna.

“Untuk STBM ini ada beberapa kategori. Kategori dasar sudah kita capai, kemudian kategori madya juga sudah. Tahun ini kita tidak boleh lagi mengikuti madya sehingga harus mengikuti kategori Paripurna,” jelasnya.

Menurutnya, berdasarkan penilaian awal, di Jawa Timur terdapat dua daerah yang memenuhi kriteria untuk mengikuti penilaian kategori Paripurna, yakni Kota Probolinggo dan Kabupaten Sidoarjo.

Ia optimis berbagai program yang telah dilaksanakan Pemkot Probolinggo dapat menjadi modal kuat dalam menghadapi tahapan verifikasi lanjutan. “Dari paparan tadi, Pak Wali Kota juga optimis. Tim juri juga melihat berbagai program yang sudah kita paparkan. Insyaallah kita optimis bisa mencapai kategori Paripurna,” tuturnya.

Meski demikian, Dokter Intan mengakui masih terdapat sejumlah data dan dokumentasi yang perlu dilengkapi, terutama terkait bukti keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan STBM. Pencapaian STBM Paripurna nantinya bukan semata-mata untuk memperoleh penghargaan, melainkan menjadi momentum untuk memastikan perilaku hidup bersih dan sehat terus menjadi gerakan bersama.

Ia juga mengajak seluruh perangkat daerah dan masyarakat untuk terus menjaga kebiasaan hidup bersih dan sehat. Menurutnya, STBM membutuhkan perubahan perilaku yang harus dilakukan secara konsisten, baik di lingkungan masyarakat maupun perkantoran. (mir/fa)

BAGIKAN