ARMENIA – Kota Probolinggo mewakili Indonesia dalam Conference of The Parties (COP17) to the Convention on Biological Diversity (CBD) 9th Summit for Subnational Governments & Cities di Kota Yerevan, Armenia, Asia Barat. Wali Kota Dokter Aminuddin pun didapuk sebagai narasumber dalam forum Planetary Stewardship in Action: Local Solutions for the Rio Conventions through Transformative Leadership, Kamis (22/10).
“Sangat membanggakan karena Kota Probolinggo sudah mewakili Indonesia dalam forum ini. Alhamdulillah Kota Probolinggo menjadi bagian dari acara PBB untuk negara-negara di dunia, tempat berkumpulnya para ahli dari seluruh negara,” Dokter Aminuddin-sapaan wali kota.
Di acara ini, tutur wali kota, membicarakan semua hal tentang keanekaragaman hayati (flora fauna) yang ada di dunia. Dalam forum ini pun membahas komitmen bersama agar kehidupan flora fauna di seluruh dunia semakin meningkat lagi dan memberikan dampak besar untuk mengurangi efek gas rumah kaca.
“Saya memberikan materi tentang bagaimana Kota Probolinggo menutupi hampir 80 persen daerah pantainya dengan hutan mangrove. Mari terus kita tingkatkan garis pantai sehingga 7 – 8 km hutan mangrove di Kota Probolinggo dapat tersambung,” terang Dokter Aminuddin.
Pada konverensi yang membahas tentang lingkungan, khususnya keanekaragaman hayati ini, Dokter Aminuddin memperkenalkan Kota Probolinggo, salah satu kota di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ia mempresentasikan bagaimana Kota Probolinggo, sebuah daerah pesisir mengembangkan program lingkungannya.
Katanya, terkait dampak perubahan iklim di Kota Probolinggo dalam kurang dari 10 tahun berada pada angka 0,4. Visi Kota Probolinggo hingga tahun 2029 adalah menuju kota adaptif, sedangkan kerangka kerja hingga tahun 2029 berfokus pada infrastruktur dan lingkungan.
“Apa saja yang sudah kami lakukan? Kami merumuskan kebijakan dan melakukan aksi pencegahan gas rumah kaca, rehabilitasi lahan dan hutan, termasuk penanaman mangrove,” jelasnya.
Sejak tahun 2015, lanjutnya, wilayah mangrove di Kota Probolinggo terus berkembang dari 80 hektar di tahun 2015 menjadi 130 hektar di tahun 2025. Pemerintah Kota Probolinggo juga berupaya mengolaborasikan pilar ekologi dan ekonomi dalam pembangunan lingkungan.
Pilar ekologi yang dimaksud adalah pelibatan masyarakat dalam sejumlah kegiatan lingkungan. Antara lain kerja bakti peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia dengan menanam 1000 mangrove dan kegiatan restorasi aktif.
“Sedangkan pilar ekonomi, kami berusaha mengembangkan tempat wisata ekologis dalam bentuk eco-camping, hingga jalur wisata mangrove sepanjang 5 km. Serta kami mengolaborasikan wisata budaya melalui Bakau to Bakau dan Petik Laut, Gir Sereng Festival,” bebernya.
Kota Probolinggo juga tengah berupaya mengembangkan wilayah sabuk hijau (green belt) di sekitar wilayah pesisir. Di wilayah barat antara lain Ketapang, Pilang, Sukabumi. Sementara wilayah timur di Mangunharjo dan Mayangan.
“Blue print Kota Probolinggo untuk kemajuan perkotaan pesisir. Yakni, komitmen ekologis dalam pembangunan daerah secara mendasar mengubah masa depan suatu kota. Dengan memperlakukan keanekaragaman hayati sebagai infrastruktur perkotaan yang krusial. Menjadi kota yang tidak hanya bertahan dari ancaman ganda percepatan iklim dan peluasan kota, tetapi juga dapat berkembang pesat,” lanjut Dokter Aminuddin.
Rangkaian Conference of The Parties (COP17) to the Convention on Biological Diversity (CBD) diselenggarakan oleh ICLEI (Local Governments for Sustainability) dan CBC (Cities Blodiversity Center) yang dihadiri Wali Kota Probolinggo mulai 22 – 24 Oktober 2026.
Sebuah Konvensi Keanekaragaman Hayati yang diikuti Delegasi Uni Eropa untuk Armenia, bekerja sama dengan Program Lingkungan PBB (UNEP), Kementerian Lingkungan Hidup (MoEnv), dan mitra nasional serta internasional lainnya.
Acara ini juga menekankan pendekatan menyeluruh dari pemerintah dan masyarakat yang diperlukan untuk memastikan bahwa aksi keanekaragaman hayati terintegrasi ke dalam kebijakan dan implementasinya.
Tujuan konvensi ini untuk meningkatkan kesadaran negara-negara di dunia tentang pentingnya keanekaragaman hayati dan integrasinya ke dalam kebijakan kesehatan, pertanian, pariwisata, dan ketahanan iklim, serta bidang lainnya. (fa/pin)
