KANIGARAN – Buah mangga menjadi inspirasi bagi para peserta Lomba Kreasi Kostum Mangga dalam rangka Mango Carnival of Indonesia 2026. Sebanyak 22 peserta menampilkan kostum mereka dalam Kirab Budaya dan Gunungan di Kota Probolinggo, Kamis (29/10) siang.
Beragam pernak-pernik bernuansa mangga menghiasi kostum yang dikenakan peserta. Mereka mengusung berbagai tema, diantaranya Eksotika Mangifera Indica, The Emerald Mango King, Queen of Mango Arumanis, Prabu Manalagi, hingga Mangifera Folia.
Bagi Galih, salah satu peraga kostum, lomba tersebut menjadi kesempatan untuk menampilkan kekayaan Kota Probolinggo melalui busana karnaval. Dirinya menyebut buah mangga yang melimpah di kota tersebut menjadi inspirasi utama kostum yang dikenakannya.
“Untuk kostum ini mengangkat tema kelestarian yang ada di Kota Probolinggo, yaitu buah mangga, di mana buah mangga ini adalah buah yang sangat melimpah di Kota Probolinggo,” ujarnya.
Galih mengaku terkesan dengan penyelenggaraan lomba kostum bertema mangga. Selain menikmati kesempatan tampil, dirinya juga berharap bisa meraih hasil terbaik. “Untuk kesannya keren, jarang kota mengadakan event kostum mangga seperti ini. Ini kali pertamanya. Kalau juara, semuanya pasti mengincar yang terbaik. Penginnya juara satu,” tuturnya.
Sementara itu, Umar, desainer kostum The Emerald Mango King, bercerita mengenai latar belakang tema busananya yang memadukan bentuk mangga dengan konsep burung Garuda. Warna hijau dipilih untuk memperkuat kesesuaian kostum dengan tema lomba, sedangkan sebutan Mango King disesuaikan dengan peraganya yang laki-laki.
“Untuk kostumnya sendiri perpaduan dari maskotnya mangga sama konsep kostumnya seperti burung Garuda. Kenapa mengambil warna hijau? Biar lebih menyatu dengan tema mangga keseluruhan,” terangnya.
Berikutnya, ada Ratna, desainer sekaligus peserta mengaku tetap semangat mengikuti jalannya acara, meskipun salah satu aksesori busananya rusak setelah mengalami kecelakaan sebelum berangkat menuju lokasi acara. Ratna menjelaskan, rancangan awalnya mengangkat konsep kuning di pucuk ranting. Namun, bagian ranting terpaksa ditinggalkan.
“Konsep saya itu kuning di pucuk ranting. Yang rantingnya tidak saya bawa, saya tinggal. Tapi masih semangat,” ujarnya.
Kreativitas juga ditampilkan peserta dari pengelola Bank Sampah Himalaya, Kelurahan Triwung Lor. Sholichatul In'am. Dirinya menjelaskan bahwa kostum yang dibawa dibuat menggunakan bahan daur ulang, antara lain kemasan isi ulang minyak goreng dan tutup botol.
“Temanya kita peduli lingkungan bisa menjadi kreativitas. Bahannya benar-benar dari daur ulang, yaitu refill minyak goreng, kemudian tutup botol,” terangnya.
Melalui kostum tersebut, In’am ingin menunjukkan bahwa bahan yang sudah tidak terpakai dapat diolah menjadi karya kreatif. Keikutsertaan Bank Sampah Himalaya sekaligus membawa pesan kepedulian terhadap lingkungan.
“Karena kita memang dari bank sampah, jadi kita menunjukkan bahwa dari daur ulang itu kita bisa menciptakan kreativitas seperti ini,” katanya.
Para peserta kemudian mengikuti kirab dari depan Kantor Pemerintah Kota Probolinggo, melewati Jalan Suroyo, Jalan Ahmad Yani, dan Jalan DI Panjaitan, hingga berakhir di Stadion Bayuangga. Pengumuman pemenang dijadwalkan berlangsung saat penutupan Mango Carnival of Indonesia 2026, Sabtu (31/10) mendatang. (dp/pin)
