KANIGARAN - Salah satu bangunan cagar budaya bersejarah di Kota Probolinggo, Gereja Merah yang berada di Jalan Suroyo Nomor 32, mendapat kunjungan Ketua Dekranasda Kota Probolinggo dr. Evariani, Selasa (19/5) siang. Kunjungan tersebut berlangsung di rumah dinas Pendeta Wiwik Kristiani Kembuan.
Didampingi sejumlah pengurus Gereja Merah di antaranya Ketua 1 Cornelius Tahapari, Ketua 2 Andri Martin serta Sekretaris Milarosa. Turut hadir dalam kesempatan itu, Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Dispopar) M. Abas serta perwakilan DKUP Rani Yustisia.
Pertemuan berlangsung hangat dengan pembahasan mengenai upaya pelestarian dan pengembangan Gereja Merah sebagai destinasi wisata religi sekaligus situs cagar budaya di Kota Probolinggo. Dalam diskusi tersebut, pihak gereja menjelaskan sejarah bangunan Gereja Merah yang unik karena menggunakan sistem bongkar pasang (knockdown) asal Jerman.
Gereja yang dibangun sejak tahun 1862 itu hingga kini masih aktif melayani sekitar 88 kepala keluarga (KK). Selain ruang utama ibadah, gereja juga dilengkapi ruang persiapan ibadah, kantor utama, toilet jemaat, ruang sekolah mingguan anak sebanyak tiga kelas, dua ruang persekutuan remaja, dapur umum, gudang hingga guest house.
Namun demikian, pengelolaan bangunan bersejarah tersebut masih menghadapi tantangan, terutama terkait biaya perawatan yang selama ini mengandalkan swadaya jemaat. Untuk mengatasi keterbatasan itu, pihak gereja merencanakan pembangunan kantin dan pengembangan unit usaha kreatif sebagai penunjang operasional rumah ibadah.
Menanggapi hal tersebut, dr. Evariani memberikan sejumlah masukan strategis, di antaranya integrasi kegiatan Gereja Merah dengan agenda Car Free Day serta kolaborasi bersama pelaku UMKM untuk menghadirkan produk suvenir khas daerah. “Ini bisa menjadi peningkatan ekonomi rumah ibadah sekaligus memperkuat daya tarik wisata religi di Kota Probolinggo,” ujar Evariani yang juga sebagai Ketua TP PKK.
Usai berdiskusi, dr. Evariani meninjau langsung area gereja dan sejumlah fasilitas penunjang. Rencananya, di sisi utara gereja akan dibangun area pusat oleh-oleh dan gerai UMKM yang memanjang ke arah timur lengkap dengan kantin terbuka.
Pendeta Wiwik Kristiani Kembuan menyampaikan, konsep tersebut merupakan bentuk sinergi antara pihak gereja dengan Pemerintah Kota Probolinggo untuk mendukung pertumbuhan ekonomi lokal. “Area kantin yang sedang dibangun nantinya akan menyediakan ruang khusus untuk produk UMKM dan pusat oleh-oleh. Konsepnya terbuka tanpa sekat agar memudahkan interaksi antara penjual dan pembeli,” jelas Wiwik.
Menurutnya, fasilitas tersebut akan dikelola langsung oleh pihak gereja guna memperkuat kemandirian ekonomi jemaat dan masyarakat sekitar. Selain kuliner, kawasan itu juga diproyeksikan menjadi wadah promosi berbagai produk kreatif dan suvenir khas Kota Probolinggo.
Sementara itu, Kepala Dispopar M. Abas menegaskan bahwa Gereja Merah selama ini telah menjadi salah satu cagar budaya unggulan sekaligus destinasi wisata sejarah di Kota Probolinggo maupun Jawa Timur.
“Pemerintah harus hadir, bukan hanya membranding tempat wisata, tetapi juga memberikan dukungan terhadap dinamika pengelolaannya. Setelah berdiskusi dengan pihak gereja, ternyata ada banyak kendala yang dihadapi pengelola,” kata Abbas.
Ia menambahkan, Pemerintah Kota Probolinggo akan terus mencari langkah strategis untuk mendukung pengembangan Gereja Merah, baik secara langsung maupun tidak langsung. Ke depan, pihak Dispopar juga akan melakukan komunikasi lebih lanjut terkait berbagai kebutuhan pengembangan destinasi wisata religi dan tempat ibadah bersejarah lainnya di Kota Probolinggo.
Menurut Abas, hal itu penting sebagai dasar penyusunan kebijakan agar potensi wisata daerah dapat terus berkembang dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat. (dy/fa)



