PROBOLINGGO – Semarak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dan Hari Jadi ke-667 Kota Probolinggo semakin terasa melalui kreativitas warga dalam menghias lingkungan. Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin bersama Ketua TP PKK Kota Probolinggo dr. Evariani Aminuddin meninjau penilaian final Lomba Lampu Hias Kampung Bersolek, Rabu (2/9).
Peninjauan dilakukan di lima lokasi yang berhasil masuk babak final. Selain Wali Kota dan Ketua TP PKK, turut hadir tim juri yang terdiri atas Sekretaris Daerah Kota Probolinggo Budiono Wirawan dan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Aries Santoso. Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispopar) Muhammad Abas selaku leading sector turut mendampingi kegiatan penilaian.
Lima lokasi finalis tersebut masing-masing berada di RT 4/RW 1 Kelurahan Jati, RT 1/RW 6 Kelurahan Sukoharjo, RT 3/RW 2 Kelurahan Sumber Taman, RT 5/RW 4 Kelurahan Kedunggaleng, dan RT 4/RW 4 Kelurahan Ketapang.
Kunjungan pertama berlangsung di Kampung Sunan Kalijaga, RT 4/RW 1 Kelurahan Jati. Kedatangan Wali Kota disambut antusias warga yang telah menyiapkan berbagai dekorasi serta suasana kampung yang semarak.
Di lokasi tersebut, Aminuddin juga menyempatkan diri mengunjungi salah satu rumah warga yang memiliki tampilan unik dengan motif kotak-kotak berwarna cerah, mulai dari dinding hingga lantai. Wali Kota kemudian menikmati sajian makanan tradisional yang disuguhkan warga, seperti cenil, tahu petis, polo pendem, serta wedang cao bercita rasa rempah.
Penilaian berikutnya dilakukan di Gang Katsir, RT 1/RW 6 Kelurahan Sukoharjo. Mengusung tema Papua, warga menampilkan kekompakan sekaligus kreativitas dalam memanfaatkan barang bekas menjadi berbagai ornamen lingkungan.
Kedatangan rombongan disambut tarian selamat datang oleh warga. Berbagai material bekas disulap menjadi bunga, pot tanaman, hingga ornamen dekoratif yang mempercantik kawasan.
Ketua TP PKK Kota Probolinggo dr. Evariani Aminuddin mengapresiasi kreativitas tersebut. Ia juga mendorong warga agar pemanfaatan lahan tidak hanya berorientasi pada keindahan, tetapi sekaligus mendukung kebutuhan keluarga.
"Kalau lahannya memungkinkan, tanaman yang ditanam bisa diarahkan pada tanaman yang dapat dikonsumsi sehari-hari, seperti sayuran. Jadi selain memperindah lingkungan, juga bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga," ujarnya.
Suasana berbeda terlihat di lokasi ketiga, RT 3/RW 2 Kelurahan Sumber Taman. Warga menyuguhkan nuansa Bali yang kental melalui penjor, patung kepala leak, serta ornamen bernuansa budaya Bali.
Kreativitas semakin terlihat dari pemanfaatan barang bekas sebagai bahan dekorasi, termasuk galon dan botol plastik yang diolah menjadi bagian dari ornamen pura. Rombongan Wali Kota disambut tarian medley Nusantara yang dibawakan perempuan warga, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.
Beranjak ke lokasi keempat, Mutiara Bogowonto, RT 5/RW 4 Kelurahan Kareng Lor, warga mengangkat tema Kerajaan Majapahit. Sambutan tari Grebeg Majapahit yang dibawakan ibu-ibu warga menambah kuat suasana budaya di kawasan tersebut.
Keunikan lainnya terlihat dari keberadaan "Taman Sari", yakni area yang dimanfaatkan sebagai taman produktif. Warga menanam berbagai tanaman konsumtif, mulai dari sayuran hingga memelihara ikan lele.
Di lokasi terakhir, RT 4/RW 4 Argopuro 18, Kelurahan Ketapang, rombongan kembali disambut hangat oleh warga melalui tarian penyambutan. Wali Kota Aminuddin menyapa masyarakat sekaligus menikmati sajian angkringan yang disiapkan warga dengan berbagai makanan khas.
Suasana semakin meriah ketika dr. Evariani Aminuddin turut bergabung bersama para penari dan menunjukkan kebolehannya mengikuti gerak tari.
Evariani menilai antusiasme warga di lima lokasi final menunjukkan kuatnya semangat kebersamaan dan gotong royong dalam membangun lingkungan.
"Apresiasi luar biasa untuk seluruh warga. Semangat, guyup rukun dan gotong royong seperti ini menjadi kekuatan dalam mewujudkan Probolinggo Bersolek. Tidak ada wilayah yang berjalan sendiri, semuanya bergerak bersama untuk menjadikan Kota Probolinggo semakin indah," ungkapnya.
Sementara itu, Wali Kota Aminuddin mengaku takjub melihat kreativitas dan partisipasi masyarakat dalam lomba tersebut. Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar perlombaan menghias kampung, tetapi juga menjadi ruang bagi warga untuk menggali potensi lingkungan dan memperkuat kebersamaan.
"Tampilan dan animo masyarakat cukup antusias. Semangatnya sangat baik, kerja samanya juga luar biasa. Mudah-mudahan semangat ini terus dipertahankan karena kebersamaan merupakan kekuatan untuk menciptakan Probolinggo Bersolek," kata Aminuddin.
Ia berharap berbagai potensi yang ada di lingkungan warga dapat terus dikembangkan sehingga memberikan manfaat lebih luas, termasuk mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat.
"Potensi yang ada di sekitar bisa diangkat dan dikembangkan. Keindahan lingkungan ini mudah-mudahan terus lestari, menjadi daya tarik sekaligus percontohan bagi warga di wilayah lainnya," tambahnya.
Melihat tingginya antusiasme masyarakat, Aminuddin memastikan lomba lampu hias akan kembali digelar setiap tahun. Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi agenda yang mendorong kreativitas, gotong royong dan kepedulian warga terhadap lingkungan secara berkelanjutan.
Lomba Lampu Hias Kampung Bersolek pun menjadi salah satu gambaran bahwa semangat mempercantik Kota Probolinggo tidak hanya lahir dari program pemerintah, tetapi tumbuh dari partisipasi dan kreativitas masyarakat di setiap lingkungan. (vv/pin)
