Lomba Kreasi Mangga Gali Potensi dan Ruang Inovasi Ciptakan Berbagai Menu

2026

MAYANGAN – Sebanyak 29 kelurahan di Kota Probolinggo unjuk kreativitas dalam Lomba Kreasi Mangga yang menjadi bagian dari rangkaian Mango Carnival of Indonesia 2026. Beragam olahan berbahan dasar mangga dibuat dalam kompetisi yang berlangsung di area Stadion Bayuangga, Jumat (30/10) siang. Lomba ini sebagai upaya meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan daerah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Ketua Tim Penggerak PKK Kota Probolinggo, dr. Evariani Aminuddin, turut hadir dan menjadi salah satu juri dalam kompetisi tersebut. Ia bersama dua juri lainnya menilai kreasi peserta berdasarkan sejumlah aspek, mulai dari kreativitas, cita rasa, penggunaan bahan baku, nilai jual hingga keamanan pangan.

Evariani pun mengapresiasi beragam inovasi yang dihadirkan peserta dari 29 kelurahan. Menurutnya, kreativitas masyarakat dalam mengolah mangga menjadi produk kuliner memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai produk unggulan Kota Probolinggo.

“Banyak hal luar biasa yang kita lihat, mulai dari tampilan, cita rasa, kandungan bahan, hingga nilai jualnya. Yang paling penting adalah bagaimana inovasi ini bisa menggerakkan UMKM dan pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Eva menekankan, tampilan produk dan kemasan menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya tarik konsumen. Selain itu, cita rasa harus diperhatikan agar produk dapat diterima pasar. Perpaduan kualitas rasa, penyajian yang menarik, serta kemasan yang tepat diharapkan mampu meningkatkan daya saing produk olahan mangga.

Bagi Evariani, inovasi yang benar-benar menghadirkan sesuatu yang berbeda memiliki nilai lebih. Produk yang memiliki karakter khas dan tidak sekadar meniru produk yang sudah beredar dinilai berpotensi menjadi identitas kuliner Kota Probolinggo.

Ia juga mendorong agar hasil kreasi masyarakat tidak berhenti pada perlombaan. Produk yang potensial perlu mendapatkan pendampingan, termasuk dalam pengembangan usaha, pemasaran, hingga akses permodalan. Kolaborasi dengan pemilik kafe, restoran, dan pelaku usaha kuliner juga dapat menjadi salah satu jalan untuk memperluas pasar.

“Sebetulnya inovasi masyarakat kita tinggi. Namun, terkadang masih terkendala modal, tempat usaha, dan pemasaran. Karena itu, dibutuhkan pendampingan agar produk-produk ini bisa berkembang,” tambah Eva.

Kabid Perikanan Budidaya sekaligus Plt. Kabid Ketahanan Pangan DKPPP Kota Probolinggo, Hoirul Arifin, menjelaskan bahwa Lomba Kreasi Mangga tahun ini dirancang untuk menggali potensi pengolahan mangga di setiap kelurahan.

Menurutnya, mangga tidak hanya memiliki nilai ekonomi ketika dijual dalam bentuk buah segar, tetapi juga dapat diolah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

“Harapannya, potensi olahan mangga ini terus berkembang. Tidak hanya buahnya, tetapi juga produk olahannya, sehingga hilirisasi olahan mangga dapat terwujud,” jelasnya.

Sementara itu, panitia lomba, Kunti, menerangkan bahwa format kompetisi tahun ini lebih terbuka dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya yang berfokus pada produk cake sebagai oleh-oleh khas daerah.

Kali ini, peserta diberikan keleluasaan berkreasi melalui kudapan basah dan minuman berbahan mangga. Kombinasi kedua produk tersebut juga menjadi bagian yang diperhatikan dalam penilaian juri. Panitia berharap kompetisi ini dapat meningkatkan kepercayaan diri pelaku usaha untuk mengembangkan produk sekaligus memperluas pemasarannya hingga ke luar daerah.

Melalui Mango Carnival of Indonesia 2026, Pemerintah Kota Probolinggo berupaya memperkuat posisi mangga sebagai identitas daerah. Pengembangan produk olahan diharapkan dapat memperpanjang masa pemasaran komoditas musiman tersebut, sekaligus membuka peluang bagi lahirnya produk oleh-oleh khas Kota Probolinggo yang dapat dipasarkan sepanjang tahun. (es/fa)

BAGIKAN