KANIGARAN – Gelaran Mango Carnival of Indonesia (MCI) 2026 resmi berakhir pada Sabtu malam (31/10). Penutupan yang berlangsung meriah di Stadion Bayuangga, Jalan Kacapiring, Kota Probolinggo, menjadi puncak rangkaian festival mangga berskala nasional yang untuk pertama kalinya digelar oleh Pemerintah Kota Probolinggo selama tiga hari, mulai 29 hingga 31 Oktober 2026.
Closing ceremony tersebut dihadiri Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin didampingi Ketua TP PKK Kota Probolinggo dr. Evariani Aminuddin, Sekretaris Daerah Kota Probolinggo Budiono Wirawan beserta Ketua Dharma Wanita Persatuan, Kapolres Probolinggo Kota, Ketua Pengadilan Negeri, Ketua Pengadilan Agama, para asisten, kepala perangkat daerah, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP), perwakilan Bank Jatim, Kadin, serta masyarakat yang antusias menikmati malam penutupan bersama keluarga.
Dalam sambutannya, Wali Kota Aminuddin menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh panitia, peserta, petani, pelaku usaha, peserta festival mangga dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur, serta seluruh pihak yang telah berkontribusi menyukseskan kegiatan tersebut.
Menurutnya, penyelenggaraan MCI 2026 menjadi kebanggaan tersendiri bagi Kota Probolinggo karena merupakan festival mangga berskala nasional yang pertama kali diselenggarakan di Indonesia. Lebih dari sekadar festival, kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat identitas Probolinggo sebagai Kota Mangga sekaligus memperkenalkan potensi mangga Nusantara ke pasar yang lebih luas.
“Bahkan, saya mendapat kesempatan bertemu dengan investor Jepang yang tertarik terhadap potensi mangga Jawa Timur. Mereka menilai mangga Jawa Timur memiliki kualitas yang sangat baik. Ke depan, Kota Probolinggo juga berpeluang diundang dalam kunjungan bisnis ke Nagoya, Jepang,” ungkapnya.
Ia menambahkan, berdasarkan arahan Direktur Jenderal terkait, kegiatan serupa diharapkan dapat terus dilanjutkan pada tahun-tahun mendatang sehingga memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan komoditas mangga Indonesia.
Tidak hanya dari sisi promosi dan pengembangan potensi pertanian, MCI 2026 juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Berdasarkan hasil pendataan dan estimasi perputaran uang selama tiga hari pelaksanaan, tercatat potensi perputaran ekonomi mencapai Rp567.355.250 atau lebih dari Rp567 juta.
“Keberhasilan Mango Carnival of Indonesia tidak hanya diukur dari kemeriahan acara dan antusiasme masyarakat, tetapi juga dari dampak ekonomi yang dihasilkan. Ini menunjukkan bahwa kegiatan yang mengangkat potensi daerah dan melibatkan partisipasi masyarakat mampu menciptakan aktivitas ekonomi, membuka peluang usaha, serta memberikan manfaat yang lebih luas,” jelas Aminuddin.
Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota juga mengajak masyarakat untuk mendukung kampanye internasional We Love Cities yang berlangsung pada 31 Oktober hingga 30 November 2026. Kota Probolinggo bersama Kota Balikpapan menjadi dua kota perwakilan Indonesia yang berpartisipasi dalam kampanye tersebut.
Ia mengajak seluruh perangkat daerah, pelaku usaha, komunitas, hingga generasi muda untuk turut memberikan dukungan, tidak hanya melalui ruang digital, tetapi juga melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Mencintai kota berarti peduli terhadap lingkungan, menjaga kebersihan, mengurangi sampah, bangga terhadap potensi dan produk lokal, mendukung UMKM, serta berpartisipasi aktif membangun kota yang lebih baik, ramah lingkungan, dan berkelanjutan,” pesannya.
Mangga Harum Manis Ngawi Raih Juara National Mango Contest MCI 2026
Salah satu agenda yang turut menjadi perhatian dalam malam penutupan adalah pengumuman pemenang National Mango Contest. Dalam kompetisi tersebut, Kabupaten Ngawi berhasil meraih predikat juara melalui mangga varietas Harum Manis sekaligus membawa pulang piala bergilir, uang pembinaan sebesar Rp. Rp. 6.500.000,-, serta sertifikat penghargaan. Berikutnya disusul juara kedua Kabupaten Pasuruan dan juara ke tiga dari kabupaten Situbondo.
Penilaian kontes dilakukan berdasarkan sejumlah kriteria, meliputi tampilan fisik buah seperti warna kulit dan bentuk, aspek sensori yang mencakup warna daging, tekstur, dan rasa, serta karakteristik buah berupa ukuran, berat, dan ketebalan daging.
Perwakilan Kabupaten Ngawi, Munirulhadi, mengaku bangga dan tidak menyangka varietas mangga yang dibawanya berhasil menjadi juara. Ia mempersembahkan kemenangan tersebut bagi seluruh masyarakat Ngawi, khususnya para petani mangga.
“Kami sangat bangga dan bahagia. Kemenangan ini untuk seluruh masyarakat Ngawi. Semoga menjadi motivasi bagi para petani untuk semakin bersemangat merawat kebun dan menghasilkan varietas mangga berkualitas terbaik. Event ini juga bisa menjadi percontohan agar petani di daerah kami semakin terpacu mengembangkan potensi mangga,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan, selama tiga hari pelaksanaan festival, mangga yang dibawa dari Ngawi sebanyak 60 kilogram habis terjual. Penjualan tersebut menghasilkan omzet hingga puluhan juta rupiah.
Rangkaian Mango Carnival of Indonesia 2026 sendiri menghadirkan beragam kegiatan, mulai dari kirab dan gerebeg gunungan mangga, bazar serta pasar mangga murah, festival musik duk-duk dan kolaborasi seni, kompetisi kreativitas bertema mangga, kontes varietas mangga, hingga Mango Fun Walk yang mengampanyekan gerakan menanam pohon mangga di setiap rumah.
Penutupan MCI 2026 sekaligus menjadi awal langkah berkelanjutan untuk membawa nama Kota Probolinggo semakin dikenal, memperluas jejaring pemasaran mangga, serta mendorong mangga lokal agar mampu bersaing di pasar nasional hingga internasional. (vv/pin)
