Masuk Nominasi Terbaik PPA Award Jawa Timur 2026, Tim Penilai Kunjungi Kota Probolinggo

2026

KANIGARAN – Wali Kota Probolinggo Dokter Aminuddin menerima kunjungan Tim Penilai Pencegahan Perkawinan Anak (PPA Award) Provinsi Jawa Timur Tahun 2026, Jumat (19/6). Ini bagian dari penilaian tahap III yang menilai secara langsung kesesuaian presentasi kinerja dengan implementasi program di lapangan. 

Sebelumnya, presentasi dilaksanakan secara daring pada 8 Juni lalu. Dalam ajang tersebut, Kota Probolinggo berhasil lolos sebagai salah satu dari enam kabupaten/kota nominator terbaik di Jawa Timur dalam kategori Pencegahan Perkawinan Anak (PPA Award). Tim penilai berasal dari DP3AK Jawa Timur, UNICEF, Universitas Airlangga, dan Tim Penggerak PKK Jawa Timur. 

Penerimaan tim penilai di Ruang Transit, dihadiri Wawali Ina Dwi Lestari, Sekda Budiono Wirawan, Ketua TP PKK Dokter Evariani Aminuddin, Ketua Pengadilan Agama Achmad Fausi, perwakilan Kementerian Agama, jajaran perangkat daerah terkait. 

Wali Kota Dokter Aminuddin menegaskan pencegahan perkawinan anak menjadi salah satu fokus pembangunan sumber daya manusia di Kota Probolinggo. Berbagai program dan inovasi terus diperkuat untuk menyentuh akar persoalan, mulai dari pendidikan, ketahanan keluarga, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.

"Upaya pencegahan perkawinan anak tidak bisa dilakukan secara parsial. Karena itu kami membangun ekosistem perlindungan anak yang melibatkan seluruh unsur, mulai dari keluarga, sekolah, organisasi masyarakat, hingga perangkat daerah. Semua bergerak bersama untuk memastikan anak-anak memiliki kesempatan meraih masa depan yang lebih baik," ujarnya. 

Melalui inovasi unggulan Amin Sigap, layanan satu pintu hasil kolaborasi dengan Pengadilan Agama yang memberikan pendampingan dan upaya preventif terhadap pengajuan dispensasi perkawinan anak. 

Pemerintah Kota Probolinggo juga memperkuat fungsi Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) sebagai ruang konsultasi keluarga dan perlindungan anak yang kini semakin mudah diakses masyarakat. 

Selain itu, berbagai program pendukung juga dijalankan, seperti digitalisasi layanan posyandu, pembentukan Remaja Amanah, penguatan peran TP PKK hingga tingkat kelurahan, serta pemberian beasiswa dan fasilitasi pendidikan bagi anak-anak yang berisiko putus sekolah. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari strategi memutus rantai kemiskinan dan mencegah terjadinya perkawinan usia dini. 

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan (DP3AK) Provinsi Jawa Timur, Sufi Agustini, mengapresiasi kolaborasi lintas sektor yang telah dibangun Pemerintah Kota Probolinggo. Menurutnya, keterlibatan Pengadilan Agama, Kementerian Agama, TP PKK, organisasi masyarakat, hingga perangkat daerah menjadi kekuatan utama dalam menekan angka perkawinan anak.

"Penanganan perkawinan anak harus melibatkan semua unsur. Kami melihat Kota Probolinggo memiliki berbagai inovasi dan kolaborasi yang kuat sehingga berpotensi menjadi praktik baik yang dapat direplikasi oleh daerah lain," katanya. 

Senada dengan itu, perwakilan UNICEF Tubagus Arie Rukmantara menilai pencegahan perkawinan anak merupakan investasi sosial jangka panjang yang berdampak langsung pada peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat.

"Yang menarik dari Kota Probolinggo adalah adanya upaya membangun kerangka kerja yang menyeluruh. Pencegahan perkawinan anak tidak berhenti pada pembatalan perkawinan atau mengembalikan anak ke bangku sekolah, tetapi juga dipikirkan bagaimana anak-anak tersebut memiliki masa depan yang lebih baik, mendapatkan pendidikan, keterampilan, dan kesempatan untuk berkembang," ujarnya. 

Ia berharap praktik baik yang dilakukan Kota Probolinggo dapat terus dikembangkan dan menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam membangun sistem perlindungan anak yang berkelanjutan. 

"Kami melihat ada komitmen kuat dari pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan. Semangat kolaborasi seperti ini sangat penting untuk mewujudkan lingkungan yang benar-benar aman dan ramah bagi setiap anak," pungkasnya. 

Usai melakukan sesi verifikasi dan pendalaman materi, tim penilai mengunjungi lokasi pendukung program. Salah satunya, PUSPAGA. Untuk melihat secara langsung pelaksanaan layanan konsultasi keluarga, pendampingan psikologis, serta berbagai program edukasi yang menjadi bagian dari strategi pencegahan perkawinan anak di Kota Probolinggo. (mir/fa)

BAGIKAN