National Mango Forum, Dorong Penguatan Hilirisasi dan Pasar Ekspor Mangga Probolinggo

2026

MAYANGAN – Setelah dibuka siang hari, Mango Carnival of Indonesia 2026 di Kota Probolinggo dilanjutkan dengan National Mango Forum. Di lokasi yang sama, Stadion Bayuangga, Kamis (29/10) malam.  Forum ini menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, eksportir, dan petani untuk memperkuat potensi mangga sebagai komoditas unggulan daerah sekaligus meningkatkan daya saing di pasar nasional maupun internasional.

Diskusi panel yang berlangsung interaktif tersebut dihadiri sekitar 125 undangan dari berbagai daerah dan latar belakang profesi. Di antaranya perwakilan Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), akademisi dari sejumlah perguruan tinggi luar daerah, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), eksportir, petani mangga, serta jajaran Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Kota Probolinggo.

Dalam kesempatan tersebut, Wawali Ina Dwi Lestari menyoroti besarnya potensi mangga lokal Probolinggo yang telah dikenal sejak lama. Namun, potensi tersebut perlu didukung strategi pemasaran yang lebih luas, penguatan kualitas produk, serta perluasan akses pasar hingga tingkat nasional dan internasional.

“Selain peluang pengembangan pasar, berbagai tantangan yang dihadapi petani juga menjadi perhatian, termasuk angin musiman yang kerap merusak tanaman dan memengaruhi hasil panen. Melalui forum ini, pemerintah daerah berharap terbangun kolaborasi yang lebih kuat antara petani, ahli, pemerintah, dan pelaku usaha untuk mencari solusi konkret dalam meningkatkan produktivitas, kualitas, serta daya saing mangga Probolinggo,” urainya.

Diskusi ini menghadirkan tiga narasumber yang membahas pengembangan industri mangga dari hulu hingga hilir. Narasumber pertama, Freddy dari Direktorat Hilirisasi Hasil Hortikultura, Direktorat Jenderal Hortikultura, memaparkan strategi pengembangan hilirisasi komoditas mangga.

Paparan disampaikan secara virtual dengan menekankan pentingnya pengembangan nilai tambah mangga melalui inovasi produk, teknologi pengolahan, dan diversifikasi produk turunan, sehingga komoditas ini tidak hanya dipasarkan dalam bentuk buah segar.

Selanjutnya, Novi Hutami dari Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Kementerian Perdagangan RI, membahas penguatan jejaring bisnis dan penetrasi pasar ekspor mangga ke Timur Tengah dan Eropa. Materi ini menyoroti pentingnya membangun jaringan perdagangan, menjaga konsistensi kualitas, serta memastikan ketersediaan pasokan agar mangga lokal mampu memenuhi kebutuhan pasar tujuan.

Sementara itu, Farihul Ihsan dari Pusat Riset Hortikultura, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menyampaikan bahwa budidaya mangga untuk menghasilkan panen dengan profitabilitas tinggi dan pasokan berkelanjutan. Pembahasan mencakup upaya meningkatkan produktivitas, memperbaiki praktik budidaya, dan menjaga kesinambungan produksi.

Ketiga materi tersebut mengerucut pada tiga fokus utama. Yakni inovasi budidaya, penguatan jejaring bisnis, dan pemanfaatan teknologi untuk mendukung hilirisasi. Selain diskusi panel dan sesi tanya jawab, rangkaian kegiatan juga dilengkapi dengan business matching bersama asosiasi terkait guna membuka peluang kemitraan dan menghasilkan langkah nyata bagi pengembangan industri mangga nasional.

Antusiasme peserta terlihat dalam sesi diskusi yang melibatkan petani dari Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Probolinggo. Mereka menyampaikan kesiapan untuk memasok ratusan kuintal mangga berkualitas tinggi yang telah mengantongi sertifikasi Prima dan AP ke Surabaya maupun untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor.

Para petani juga mengungkapkan sejumlah kendala infrastruktur yang masih perlu mendapat perhatian. Salah satunya adalah fasilitas ruang pendingin yang disebut telah berhenti beroperasi sejak 2002. Padahal, fasilitas penyimpanan berpendingin berperan penting dalam menjaga kesegaran dan kualitas buah selama proses distribusi, terutama untuk pengiriman jarak jauh.

Para petani menegaskan kesiapan untuk memenuhi permintaan berbagai varietas unggulan, termasuk mangga gadung, sepanjang tersedia skema harga yang rasional dan menguntungkan produsen. Kepastian harga dinilai penting agar perluasan pasar tidak justru menambah beban biaya dan risiko kerugian bagi petani.

Melalui National Mango Forum, Pemerintah Kota Probolinggo berharap terbangun sinergi berkelanjutan antara pemerintah, lembaga riset, pelaku perdagangan, eksportir, dan kelompok tani. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menjawab tantangan produksi dan distribusi, memperkuat hilirisasi, serta membuka akses pasar yang lebih luas bagi mangga lokal.

Pada akhirnya, pengembangan mangga tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas, tetapi juga untuk memperkuat kesejahteraan petani dan mendorong Probolinggo menjadi salah satu sentra mangga unggulan yang berdaya saing dan berkelanjutan. (dy/fa)

BAGIKAN