KADEMANGAN - Area Pantai Permata Pilang, Kecamatan Kademangan, Minggu (5/7) pagi, terasa berbeda. Semilir angin pantai berpadu dengan alunan musik akustik yang dibawakan kelompok disabilitas Melati Akustik, menghadirkan nuansa hangat sekaligus mengirimkan pesan kuat bahwa ruang publik adalah milik semua.
Kegiatan Pasar Konah diawali dengan senam bersama warga, kemudian dilanjutkan lomba mewarnai yang diikuti sekitar 100 peserta tingkat TK dan SD. Beragam kuliner tempo dulu turut menjadi magnet pengunjung, mulai dari nasi karak, nasi bu'uk, nasi jagung, lupis, bikang cungkil, rangin, nogosari, serabi, pokak, sinom, jamu kencur, rawon hingga pecel pincuk yang disajikan dengan konsep tradisional.
Setiap stan perwakilan RW di Kelurahan Kademangan dihias menggunakan ornamen tempo dulu berbahan bambu, jerami, dan dedaunan kering. Di kawasan yang teduh oleh rindangnya pohon cemara udang itu, pengunjung menikmati sajian kuliner sambil duduk santai di kursi bambu, menghadirkan kentalnya suasana nostalgia.
Tidak hanya kuliner, Pasar Konah juga menghadirkan berbagai produk unggulan masyarakat, seperti Batik Demang khas Kecamatan Kademangan, hasil pertanian dari Stan Hatinya PKK, serta beragam kerajinan tangan berupa gantungan kunci, jepit rambut, pita hias hingga wadah tisu.
Pelayanan publik pun turut hadir mendekatkan layanan kepada masyarakat, di antaranya pembayaran PBB dari BPPKAD bersama Bank Jatim, layanan Samsat untuk pembayaran pajak kendaraan bermotor, perekaman KTP elektronik dan aktivasi Identitas Kependudukan Digital (IKD), pelayanan perizinan dari DPMPTSP, hingga penjualan beras SPHP oleh Koperasi Merah Putih.
Dalam waktu sekitar tiga jam, perputaran ekonomi Pasar Konah diperkirakan hampir Rp 25 juta. Namun lebih dari sekadar transaksi ekonomi, Pasar Konah kali ini menghadirkan pesan yang lebih dalam melalui penampilan kelompok disabilitas Melati Akustik yang beranggotakan empat penyandang tunanetra. Yakni Riski, Erfan, Sigit, dan Guruh. Nama "Melati" sendiri dimaknai sebagai "melek ati", sebuah filosofi Jawa yang berarti melihat dengan hati.
Alunan musik mereka sukses menghibur pengunjung. Bahkan Wakil Wali Kota Probolinggo Ina Dwi Lestari turut bernyanyi bersama. Wawali mengapresiasi konsep Pasar Konah yang dikemas berbeda dengan memberikan ruang kepada para penyandang disabilitas untuk menunjukkan bakat dan kreativitasnya di hadapan masyarakat.
"Panggung ini bukan sekadar tempat menampilkan hiburan, tetapi ruang untuk menunjukkan bahwa setiap warga memiliki kesempatan yang sama untuk berkarya dan menginspirasi. Ketika kita memberi ruang, kita sedang membangun Kota Probolinggo yang benar-benar inklusif, di mana setiap potensi dihargai tanpa memandang keterbatasan," ujar Ina.
Menurutnya, penampilan Melati Akustik menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik tidak pernah membatasi semangat berkarya. Karena itu, Pemerintah Kota Probolinggo akan terus mendorong agar komunitas disabilitas semakin sering dilibatkan dalam berbagai kegiatan masyarakat.
"Mereka memiliki talenta luar biasa yang patut diapresiasi. Semoga semakin banyak panggung yang memberi ruang bagi teman-teman disabilitas untuk tumbuh, berkarya, dan menginspirasi. Inilah wajah kota yang kita bangun bersama, kota yang ramah, setara, dan memberikan kesempatan kepada siapa pun untuk berkarya," imbuhnya.
Menurutnya, Pasar Konah bukan hanya ajang promosi produk unggulan daerah dan pelestarian kuliner tradisional, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi kerakyatan sekaligus menjadi ruang kreativitas masyarakat.
Termasuk atraksi padepokan 22 Indonesia dengan tari permata bersolek. Para penarinya menunjukkan atraksi yang rancak sekaligus modern dengan lagu khusus tentang pantai permata.
Hadir dalam acara itu Kepala DPMPTSP Diah Sajekti, Kepala Disperinaker Retno Wndansari, serta perwakilan perangkat daerah lainnya. (yul/fa)



