Pemkot Probolinggo Gandeng Pakar Jepang Perkuat Pembelajaran Matematika dan TIK

2026

MAYANGAN – Kegiatan Profesor Masami Isoda dari University of Tsukuba, Jepang, bersama tim, serta melibatkan SEAMOLEC, SEAQIM berlanjut di hari kedua, Rabu (19/8). Peningkatan Kapasitas Guru melalui Lesson Study dan Lokakarya Pemanfaatan TIK dalam Pembelajaran Matematika bersama Profesor Masami Isoda berlangsung di Bale Hinggil.

Wali Kota Probolinggo Dokter Aminuddin mengatakan, peningkatan kualitas pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada penguasaan materi pelajaran. Menurutnya, pendidikan harus mampu membentuk generasi yang memiliki karakter kuat, mampu beradaptasi, serta memiliki kemampuan memecahkan berbagai persoalan. Ia mencontohkan sistem pendidikan Jepang yang sejak lama menekankan kesiapan lulusan untuk menghadapi berbagai situasi dan lingkungan.

“Yang kita harapkan bukan hanya anak-anak kita menguasai ilmu, tetapi juga memiliki mental yang kuat dan kemampuan problem solving. Anak-anak harus dipersiapkan sehingga mampu ditempatkan di mana saja dan menghadapi situasi apa saja,” ujarnya.

Wali kota menilai, matematika juga tidak boleh dipahami sebatas kemampuan berhitung. Matematika, kata dia, merupakan bagian penting dalam kehidupan yang dapat melatih cara berpikir sistematis dan kemampuan menyelesaikan masalah.

“Matematika bukan hanya 1+1 atau 2×2. Matematika mengajarkan bagaimana kita memahami kehidupan dan bagaimana memecahkan masalah. Inilah yang harus kita tanamkan kepada anak-anak didik,” jelasnya.

Karena itu, Dokter Aminuddin berharap para guru dapat mengambil pembelajaran dari kegiatan lesson study untuk memperbaiki proses belajar mengajar secara berkelanjutan. Guru dituntut mampu melihat setiap karakter dan kemampuan peserta didik yang berbeda-beda.

“Tidak semua anak memiliki kemampuan yang sama. Ada yang cepat memahami, ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Tetapi tanggung jawab guru adalah memastikan semua anak dapat mencapai tujuan pembelajaran,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa guru memiliki peran strategis dalam membentuk karakter generasi penerus. Menurutnya, ilmu pengetahuan pada akhirnya harus bermuara pada akhlak dan karakter yang baik. “Gol akhirnya dari ilmu apa pun adalah karakter. Orang yang berkarakter, di mana pun ditempatkan, akan memberikan dampak dan membawa perbaikan,” katanya.

Lebih lanjut, Wali Kota berharap Kota Probolinggo dapat menjadi pilot project penerapan lesson study, pembelajaran matematika, komputasi, dan robotik. Jika implementasinya berhasil, ia optimis praktik baik tersebut dapat menjadi rujukan bagi daerah lain, khususnya di kawasan Indonesia Timur.

“Saya akan mendukung semaksimal mungkin sesuai kemampuan kita agar kegiatan ini benar-benar menghasilkan guru dan peserta didik yang memiliki karakter serta kemampuan problem solving,” tandasnya.

Beri Demontrasi Praktik Pembelajaran

Sementara itu, Prof. Masami Isoda menekankan pentingnya penerapan lesson study dan metode pembelajaran yang berpusat pada siswa. Melalui kemitraan antara University of Tsukuba, SEAMOLEC, SEAQIM, dan Pemerintah Kota Probolinggo, pendidikan diarahkan untuk membangun konsep student agency, yakni kemampuan peserta didik untuk berpikir, belajar, dan mengambil peran secara mandiri.

Menurutnya, guru tidak cukup hanya menyampaikan informasi kepada siswa. Yang lebih penting adalah mengajarkan metodologi berpikir, khususnya dalam matematika dan sains, sehingga siswa memiliki kemampuan untuk menemukan dan menyelesaikan persoalan.

Dalam lesson study, para pengajar ahli dari Jepang memberikan demonstrasi praktik pembelajaran di kelas. Para guru diajak melakukan pengamatan, diskusi reflektif, serta evaluasi kritis terhadap proses pembelajaran untuk meningkatkan kualitas pedagogi secara berkelanjutan.

Direktur SEAMOLEC Cahya Kusuma Ratih mengatakan, integrasi teknologi dengan metode pengajaran baru diarahkan untuk membekali peserta didik dengan keterampilan masa depan, terutama kemampuan memecahkan masalah dan berpikir kritis. “Guru tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga perlu membangun kapasitas profesional secara berkelanjutan agar memberikan dampak nyata terhadap kualitas pembelajaran,” ujarnya.

Pelatihan tersebut menjadi bagian dari kelanjutan transformasi digital di bidang pendidikan sekaligus memperkuat sinergi internasional dalam mendorong inovasi pendidikan di tingkat lokal.

Sementara itu, Direktur SEAQIM Sri Wulandari Danoebroto menekankan pentingnya menggeser paradigma pendidikan dari kompetisi menuju kolaborasi kolegial. Guru didorong untuk saling belajar dan bekerja sama dalam meningkatkan mutu pembelajaran sekaligus profesionalisme.

Ia menegaskan bahwa numerasi dan matematika perlu dipahami sebagai seni berpikir, bukan sekadar kemampuan berhitung. Melalui praktik pembelajaran yang diberikan oleh pakar Jepang, guru diajak mengamati bagaimana peserta didik berpikir, termasuk kemampuan berpikir komputasional dan bagaimana guru merespons beragam jawaban siswa.

“Tujuan akhirnya adalah memberikan inspirasi kepada para pendidik agar mampu menerapkan metode pembelajaran yang lebih terstruktur dan sistematis demi meningkatkan prestasi belajar peserta didik,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Probolinggo Setiorini Sayekti menyampaikan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan tenaga pendidik sekaligus memperkuat inovasi pembelajaran di Kota Probolinggo.

Kegiatan dilaksanakan selama dua hari, pada 19 Agustus di Bale Hinggil dan 20 Agustus di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Sebanyak 86 guru mengikuti kegiatan, yang terdiri atas guru kelas V dan VI SD serta guru SMP, khususnya guru TIK dan robotik. Kegiatan juga melibatkan pengawas sekolah, kepala sekolah, peserta didik, dan perangkat daerah terkait.

Tak hanya berfokus pada peningkatan kualitas pembelajaran, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya memperluas kerja sama pendidikan dengan institusi internasional. Pemkot Probolinggo mendorong terbangunnya kemitraan pendidikan yang berkelanjutan dengan berbagai mitra, termasuk dari Jepang.

“Harapan kami, kegiatan ini tidak berhenti sampai 20 Agustus. Ke depan tetap ada penguatan kerja sama dan program-program lanjutan yang dapat diterapkan di Kota Probolinggo,” pungkasnya. (mir/fa)

BAGIKAN