KANIGARAN - Pemkot Probolinggo melalui Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Kota Probolinggo (Dispopar) sukses menggelar Festival Ekonomi Kreatif (Ekraf) tahun 2026, Selasa (28/7). Ini sebagai wujud nyata upaya memperkuat sektor ekonomi kreatif sekaligus memberikan ruang promosi bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Festival Ekraf berlangsung meriah di GOR A.Yani dipenuhi puluhan stan UMKM yang termasuk dalam 17 sub sektor ekonomi kreatif. Antara lain kuliner; kriya;, fesyen; pengembang permainan (game); aplikasi’ film, animasi, video; musik; seni rupa; seni pertunjukan; desain komunikasi visual (DKV); desain produk; fotografi; periklanan; penerbitan.
Hampir semua stan menarik perhatian pengunjung yang siang itu didominasi oleh pelajar. Mereka tertarik dengan berbagai hal yang baru mereka ketahui tentang apa itu ekonomi kreatif. Suasana festival semakin semarak dengan berbagai hiburan yang melibatkan generasi muda.
Beragam pertunjukan ditampilkan, mulai dari kesenian tradisional seperti tari-tarian, musik tradisional hingga penampilan musik modern, band pelajar, serta kreativitas komunitas seni yang berhasil menghibur pengunjung. Dibuka pagi, festival ini berlangsung hingga malam hari.
Sebelum acara seremonial dimulai, Wali kota Dokter Aminuddin bersama Wawali Ina Dwi Lestari dan Ketua TP PKK Dokter Evariani berkeliling stan. Tidak hanya mengenal lebih jauh tentang industri ekonomi kreatif yang ada di Kota Probolinggo, mereka pun berbelanja kuliner, kain bordir hingga aksesoris.
Wali Kota Dokter Aminuddin mengatakan Festival Ekraf bukan sekadar ajang hiburan, tetapi menjadi momentum penting dalam memperkuat ekonomi kreatif sebagai salah satu penggerak perekonomian daerah.
"Dan, ini merupakan event Ekonomi Kreatif pertama di Kota Probolinggo. Insyaallah ini akan terus berlanjut. Tentunya, kita nanti berkomitmen agar kegiatan semacam ini tidak hanya berbicara tentang produk dan jasa, tetapi juga kreativitas,” jelasnya.
“Karena kata kunci dari Kota Probolinggo Bersolek itu juga diakhiri huruf ‘K’ yang artinya kreatifitas. Sehingga semua bisa di kreatifkan-dikreasikan menjadi sebuah produk-produk. Baik dari pakaian, kudapannya, dan sebagainya. Maka kita ingin seluruh inovasi, budaya, teknologi, serta kemampuan masyarakat menciptakan nilai tambah juga semakin kreatif," sambung wali kota.
Ia menambahkan, Pemerintah Kota Probolinggo akan terus memberikan dukungan melalui pembinaan, pelatihan, promosi, serta kemudahan akses bagi pelaku UMKM agar mampu berkembang dan bersaing di pasar yang lebih luas.
Sementara itu, Ketua Panitia Festival Ekraf Ibnu Wahyudi, menyampaikan penyelenggaraan festival ini dirancang sebagai ruang kolaborasi bagi seluruh pelaku ekonomi kreatif sekaligus menjadi sarana memperkenalkan potensi Kota Probolinggo kepada masyarakat.
“Kami juga menggandeng komunitas seni anak-anak muda agar festival ini menjadi ruang kreativitas yang mampu menarik minat seluruh lapisan masyarakat, dan terlebih khususnya generasi muda untuk meningkatkan kecintaannya terhadap produk-produk lokal," ungkapnya.
Festival Ekraf ini mendapat apresiasi dari Ketua Umum BPC HIPMI (Badan Pengurus Cabang Pengusaha Muda Indonesia) Yuki Rizki. Ia menilai Festival Ekraf merupakan langkah positif pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis kreativitas masyarakat.
"Kami mengapresiasi Pemerintah Kota Probolinggo yang telah menghadirkan Festival Ekraf sebagai ruang promosi bagi UMKM. Harapan kami, para pelaku UMKM tidak hanya difasilitasi saat festival berlangsung, tetapi juga terus diberikan tempat dan kesempatan untuk memamerkan hasil karya serta produknya secara berkelanjutan, sehingga produk-produk lokal semakin dikenal masyarakat luas dan mampu meningkatkan daya saing," ungkapnya.
Melalui Festival Ekraf 2026, Pemerintah Kota Probolinggo berharap semakin banyak pelaku ekonomi kreatif yang berkembang, memperluas jaringan pemasaran, meningkatkan kolaborasi, melahirkan inovasi baru, serta memperkuat identitas Kota Probolinggo sebagai kota yang kreatif, produktif, dan berdaya saing.
Festival ini juga menjadi bukti bahwa sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat mampu menghadirkan ruang ekonomi yang inklusif sekaligus memperkuat kebanggaan terhadap produk lokal. (Dev/fa)



