MAYANGAN - Pemberian santunan kepada anak yatim oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Probolinggo mengawali kegiatan Pengajian Umum dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) ke-XII, Minggu (1/11) malam. Kegiatan yang berlangsung di Gerbang Masjid Raudlatul Jannah Alun-alun Kota Probolinggo tersebut dibuka langsung oleh Wali Kota Probolinggo Aminuddin.
Dalam sambutannya, Wali Kota Aminuddin menyampaikan peringatan Hari Santri menjadi momentum penting untuk mengenang kembali sejarah perjuangan bangsa. Resolusi Jihad menjadi tonggak sejarah perjuangan para ulama, santri, dan masyarakat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman penjajah. Semangat perjuangan tersebut harus terus dihayati dan diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat saat ini.
“Sesungguhnya Hari Santri ini bukan hanya kita lakukan secara seremonial, tetapi kita harus mengingat bahwa pada tanggal 22 Oktober 1945 keluarlah Resolusi Jihad yang dicetuskan dan dipimpin oleh KH. Hasyim Asy'ari dalam rangka mengusir penjajah Belanda. Mari kita menjadikan momentum Hari Santri sebagai sarana memperkuat tekad, semangat, silaturahmi, sinergi, dan kolaborasi dalam membangun Kota Probolinggo,” ajaknya.
Aminuddin juga berharap Kota Probolinggo terus berkembang menjadi kota yang bersih, ramah, sejahtera, memiliki kualitas pendidikan yang semakin maju, serta mampu meningkatkan kreativitas masyarakat.
“Kita bersama-sama menguatkan tekad, menguatkan semangat, menguatkan silaturahmi, menguatkan sinergitas dan kolaborasi dalam membangun Kota Probolinggo tercinta. Kita harapkan kota ini bersih, ramah, sejahtera, pendidikan maju, kreativitas bertambah, agar betul-betul siap menjadi bagian dari Indonesia Emas 2045,” ungkapnya.
Pengajian umum itu menghadirkan KHR. Ahmad Aza’im Ibrahimy, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Sumberejo, Banyuputih, Situbondo, sebagai penceramah. Tausiyahnya mengulas hubungan historis antara Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang diinisiasi para ulama Nahdlatul Ulama (NU) dengan peristiwa 10 November di Surabaya.
Ia menjelaskan besarnya peran para santri, kiai, dan masyarakat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia serta menghadapi tentara Sekutu. Tantangan perjuangan pada masa kini telah mengalami perubahan. Jika dahulu bangsa Indonesia berjuang melawan penjajah bersenjata, saat ini masyarakat dihadapkan pada berbagai persoalan, seperti kebodohan, korupsi, penyalahgunaan narkoba, serta berbagai bentuk kemungkaran lainnya.
Karena itu, semangat jihad dan perjuangan para ulama serta santri terdahulu perlu diteruskan melalui upaya membangun kualitas sumber daya manusia, menjaga moralitas, dan berkontribusi positif bagi bangsa dan negara.
Suasana semakin khidmat ketika pada penghujung acara dibacakan naskah asli Resolusi Jihad. Pembacaan tersebut diikuti secara serentak oleh para tamu undangan yang hadir sebagai upaya membangkitkan kembali semangat nasionalisme dan religiusitas umat. Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama.
Selain masyarakat, pengajian juga dihadiri forkopimda, pejabat di lingkungan Pemerintah Kota Probolinggo, instansi vertikal, organisasi masyarakat hingga guru TPQ dan Madrasah Diniyah (Madin), serta para ketua RT dan RW. (dy/fa)
