KANIGARAN - Kelompok Pengolah dan Pemasar Hasil Perikanan (Poklahsar) binaan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Kota Probolinggo mengikuti temu bisnis dengan mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Kegiatan itu sekaligus digelar pelatihan diversifikasi olahan ikan di halaman Kantor DKPPP setempat, Jumat (25/9) pagi.
Diikuti sejumlah kelompok tani, 14 Poklahsar dan 37 SPPG, kegiatan ini dibuka Wali Kota Probolinggo Dokter Aminuddin, didampingi Wakil Wali Kota Ina Dwi Lestari, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Aries Santoso, serta narasumber dari Catering Toga Boga Ketapang Dahniar Mudita.
Setibanya di lokasi, rombongan Wali Kota Aminuddin langsung meninjau sejumlah tenda Poklahsar binaan DKPPP. Beragam produk olahan ikan dipamerkan dan disuguhkan. Di antaranya bakso taso, rolade, kaki naga, dimsum, nugget, sate lilit, abon ikan, otak-otak ikan, serta berbagai produk olahan ikan lainnya.
Kepala DKPPP Kota Probolinggo Fitriawati dalam laporannya menjelaskan, temu bisnis tersebut merupakan salah satu upaya untuk mempertemukan para pelaku usaha pengolahan hasil perikanan dengan mitra strategis, khususnya SPPG.
“Inisiatif tersebut bertujuan untuk menghubungkan para pengolah hasil perikanan dengan mitra strategis guna memperluas akses pasar dan meningkatkan nilai tambah produk,” ujar Fitriawati.
Kegiatan tersebut tidak hanya berorientasi pada penguatan sektor ekonomi, tetapi juga mendukung peningkatan kualitas gizi masyarakat melalui penyediaan produk olahan ikan yang beragam dan bergizi untuk mendukung program makan bergizi.
“Selain fokus pada aspek ekonomi, program ini berupaya meningkatkan kualitas gizi masyarakat melalui penyediaan olahan ikan yang variatif bagi program makan bergizi,” jelasnya.
Sementara itu, Wali Kota Probolinggo Aminuddin menekankan pentingnya sinergi antarlembaga dalam mendorong kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, dukungan terhadap pelaku usaha harus dilakukan secara terpadu, mulai dari bantuan sarana produksi hingga kemudahan akses permodalan dan pasar.
“Upaya ini merupakan bagian dari strategi besar untuk memacu pertumbuhan ekonomi daerah melalui peningkatan frekuensi acara berskala nasional,” kata Dokter Aminuddin.
Dalam kesempatan tersebut, diserahkan sejumlah bantuan sarana dan prasarana kepada kelompok penerima manfaat. Bantuan CPCL bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) berupa mesin pompa air kepada 17 kelompok tani; bantuan alsintan cultivator kepada Kelompok Tani Makmur Tani.
Serta bantuan peralatan pengolahan ikan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan kepada Poklahsar Sumber Rejeki dan Poklahsar Jaya Utama I. Selain itu, diserahkan pula bantuan satu pasang domba/kambing melalui pokok pikiran (pokir) kepada tiga orang penerima.
Acara yang diinisiasi DKPPP semakin strategis dengan dilakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara SPPG dan kelompok pengolah dan pemasar hasil perikanan (Poklahsar) untuk pengadaan produk olahan hasil perikanan.
Salah satu pelaku usaha, Sri Nurul dari Poklahsar Sumber Segoro, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menjalin kemitraan bisnis dengan empat SPPG yang berada di wilayah Kedopok, Kanigaran dan Jrebeng.
Namun, selama ini transaksi masih dilakukan secara langsung tanpa adanya ikatan kerja sama secara resmi. Kondisi tersebut, menurutnya, berpotensi menimbulkan kerugian bagi pelaku usaha apabila terjadi pembatalan pesanan secara sepihak.
“Selama ini transaksi dilakukan secara langsung tanpa ikatan resmi, sehingga sering terjadi pembatalan pesanan sepihak yang merugikan,” ungkap Sri Nurul.
Ia berharap fasilitasi dan mediasi dari dinas terkait dapat mendorong terbentuknya perjanjian kerja sama yang lebih formal antara Poklahsar dan SPPG. “Melalui mediasi dari dinas terkait, saya berharap dapat segera menyepakati perjanjian kerja sama (MoU) yang lebih formal demi menjamin kepastian hukum usaha kami,” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan dokumen kerja sama resmi sangat penting untuk memberikan kepastian bagi kedua belah pihak sekaligus mencegah potensi kerugian finansial akibat pembatalan pesanan secara mendadak.
“Legalitas kontrak sangat penting untuk memperkuat stabilitas operasional para pengusaha lokal,” tegasnya. Sri Nurul juga berharap ke depan seluruh pelaku usaha kecil dapat terintegrasi dalam sistem kemitraan yang lebih teratur.
Dengan demikian, hubungan antara pelaku usaha pengolahan ikan dan mitra penyedia makanan bergizi dapat berkembang secara berkelanjutan sekaligus ikut mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. (dy/fa)
