Tinjau Pelatihan, Ketua Dekranasda: Ciptakan Kreatifitas dan Produk Siap Jual

2026

KANIGARAN – Ketua Dekranasda Kota Probolinggo Dokter Evariani Aminuddin meninjau Pelatihan Pemanfaatan Limbah Kain Perca dan Tata Rias Pengantin yang digelar Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian (Disperinaker) di Rumah Batik, Selasa (13/10) siang. Pelatihan ini diikuti 32 peserta yang sudah memiliki embrio usaha. Melalui pelatihan tersebut diharapkan ada progres dan meningkatkan pendapatan usaha.

Setibanya di Rumah Batik, Ketua Dekranasda berinteraksi dengan para peserta. Memberikan semangat dalam mengikuti pelatihan dan menyerap ilmu dengan baik. Ia juga melihat berbagai contoh produk kain perca yang bernilai ekonomis dan menjadi barang bermanfaat. Narasumber pelatihan tersebut berasal dari Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Bojonegoro dan Kediri.

Dokter Evariani mengatakan, peserta pelatihan pemanfaatan limbah kain perca untuk membentuk kelompok usaha. “Karena dengan kelompok usaha, nantinya ada wadah bersama untuk meningkatkan kapasitas dan ketrampilan. Bisa saling sharing ketika ada kendala atau punya inovasi, dapat dikerjakan bersama,” katanya.

Tidak hanya itu, dengan kelompok usaha, lanjut istri Wali Kota Probolinggo Dokter Aminuddin ini, bisa memperkuat modal hingga efisiensi biaya dalam menjalankan usaha. Kemudian dapat memperluas jaringan dan akses pasar untuk usahanya, ada pemberdayaan serta kemandirian sehingga tercipta lapangan kerja baru.

“Hasil karya peserta pelatihan kain perca akan kami kurasi. Ciptakan kreatifitas, produk siap jual dan bermitra dengan Dekranasda. Kami di Dekranasda mewadahi hasil produk UMKM untuk dipasarkan. Dan, saya rasa prospeknya sangat bagus karena di Kota Probolinggo banyak pabrik garmen. Tidak sulit mencari limbah dari sana untuk dapat disulap jadi produk yang cantik dan bernilai ekonomis tentunya,” terang Dokter Eva – sapaannya.

Sementara itu, untuk peserta pelatihan tata rias pengantin, Dokter Eva memberi motivasi agar perias harus benar-benar menghayati dalam merias seseorang. “Merias berarti mengukir wajah sehingga menghasilkan tata rias yang cantik. Kualitas tata rias tidak selalu ke harga alat make up-nya. Yang paling utama adalah keahlian,” tuturnya.

Diketahui, sejak September lalu Disperinaker kembali memulai sejumlah pelatihan kejuruan dengan jenis dan jam pelajaran yang berbeda-beda sesuai kurikulum. Diantaranya pelatihan pemanfaatan limbah kain perca; tata rias pengantin; laundry; teknisi pendingin; las listrik; pengolahan makanan dan minuman; barista.  

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian (Disnaker) Retno Wandansari menambahkan, dengan pelatihan yang diberikan semua peserta mampu mengikuti dengan sungguh-sungguh agar memperoleh keterampilan sesuai dengan bakat yang diminati. “Untuk mencapai kesempatan bekerja baik secara usaha mandiri atau pun di industry,” ujarnya. (fa/pin)

BAGIKAN