KANIGARAN - Usai memanen anggur, Wali Kota Dokter Aminuddin bersama Wakil Wali Kota Probolinggo Ina Dwi Lestari membuka pelatihan diversifikasi olahan ikan di ruang pertemuan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Kota Probolinggo, Selasa (1/9).
Pelatihan ini menyasar nelayan, istri nelayan, pembudidaya ikan dan penyandang disabilitas sebagai peserta. Kegiatan difokuskan pada keterampilan membuat filet ikan sebagai upaya menciptakan diversifikasi usaha sekaligus meningkatkan nilai tambah hasil perikanan.
Wali Kota Dokter Aminuddin mengatakan, masyarakat nelayan perlu didorong untuk tidak berhenti pada aktivitas menjual ikan dalam bentuk utuh. Hasil tangkapan perlu diolah menjadi produk yang mempunyai nilai jual lebih tinggi sehingga memberikan peluang pendapatan baru bagi keluarga nelayan.
“Jangan hanya menjual ikan utuh. Kita harus masuk ke hilirisasi. Ikan bisa dibuat filet, dikemas dengan baik, kemudian dipasarkan dengan harga yang lebih tinggi. Inilah yang kita dorong melalui konsep Bersolek, yaitu Bersih, Ramah, Sejahtera, Orisinal, Edukasi dan Kreatif,” jelasnya.
Menurutnya, peningkatan keterampilan harus dibarengi dengan kepastian pasar. Karena itu, Pemerintah Kota Probolinggo akan terus membuka peluang kerja sama, termasuk dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG), sehingga produk olahan masyarakat memiliki pasar yang jelas.
“Kita tidak ingin masyarakat sudah dilatih dan bisa membuat produk, tetapi bingung menjualnya. Pemerintah harus hadir untuk membuka akses pasar. Kita akan dorong kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk bagaimana produk perikanan ini dapat masuk dalam kebutuhan program MBG,” tegasnya.
Selain pengolahan ikan, Dokter Aminuddin juga menekankan pentingnya pemanfaatan lahan terbatas di sekitar rumah untuk kegiatan produktif. Menurutnya, masyarakat dapat mengembangkan pertanian mandiri sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan sekaligus menambah penghasilan keluarga.
Pemerintah Kota Probolinggo, lanjutnya, juga berkomitmen membangun kota yang inklusif dengan memberikan ruang yang sama bagi seluruh masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, untuk mendapatkan pelatihan dan kesempatan berusaha.
“Kita ingin kota ini inklusif. Semua masyarakat harus mendapatkan kesempatan. Tenaga kerja lokal harus kita prioritaskan dan fasilitas pendukung akan kita upayakan, mulai dari alat pendingin sampai bantuan sarana penangkapan ikan. Tujuannya agar nelayan tidak terus bergantung pada tengkulak,” katanya.
Sementara itu, Kepala DKPPP Kota Probolinggo Fitriawati menyampaikan, pelatihan diversifikasi olahan ikan merupakan salah satu program pemberdayaan masyarakat yang diarahkan untuk meningkatkan keterampilan sekaligus memberikan nilai tambah ekonomis terhadap hasil perikanan.
Selain peningkatan kapasitas sumber daya manusia, Pemerintah Kota Probolinggo juga terus mengupayakan dukungan sarana dan prasarana untuk menjaga keberlanjutan usaha masyarakat.
“Salah satu yang kami dorong adalah adanya rumah produksi bantuan dari kementerian. Rumah produksi ini nantinya dapat menjadi sarana bagi peserta untuk mengembangkan usaha secara berkelanjutan, tidak berhenti setelah pelatihan selesai,” ujarnya.
Menurut Fitriawati, penguatan sektor perikanan tidak cukup hanya melalui keterampilan pengolahan. Modernisasi sarana penangkapan juga menjadi perhatian pemerintah daerah, termasuk rencana pemberian bantuan mesin kapal untuk menggantikan mesin nelayan yang sudah rusak.
“Jadi ekosistemnya kita bangun dari hulu sampai hilir. Mulai dari sarana penangkapan, peningkatan keterampilan pengolahan, penyediaan fasilitas penyimpanan, sampai pemasaran produk. Harapannya seluruh rangkaian ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat perikanan di Kota Probolinggo,” tuturnya.
Pelatihan semakin menarik ketika Wakil Wali Kota Probolinggo Ina Dwi Lestari ikut bergabung membuat filet ikan dengan peserta. Didampingi narasumber Intan Mauludia dari PT Sukses Lautan Indonesia, Ina mengikuti setiap tahapan yang diberikan, mulai dari teknik membersihkan ikan hingga memisahkan daging dari tulang.
Dengan mengikuti arahan narasumber, wawali berhasil menghasilkan filet ikan dengan bentuk yang rapi. “Kalau kita lihat langsung, ternyata membuat filet membutuhkan teknik dan ketelitian. Karena itu pelatihan seperti ini penting, supaya masyarakat tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga benar-benar memiliki keterampilan yang bisa dipraktikkan untuk menjadi usaha,” ujar Ina.
Ia menilai, keterampilan mengolah ikan menjadi produk bernilai tambah dapat menjadi peluang ekonomi baru bagi keluarga nelayan. Terlebih apabila produk tersebut didukung dengan kualitas, kemasan dan akses pasar yang baik.
Dalam kegiatan tersebut, Pemerintah Kota Probolinggo juga menyerahkan bantuan fasilitasi pengolahan ikan berupa chest freezer kepada nelayan secara simbolis. Bantuan tersebut diharapkan dapat mendukung proses penyimpanan bahan baku sehingga kualitas ikan tetap terjaga sebelum diolah maupun dipasarkan. (mir/fa)
