Kademangan – Kecamatan Kademangan memperkuat komitmennya dalam mewujudkan pelayanan publik yang setara, ramah, mudah diakses, dan tanpa diskriminasi. Melalui kegiatan Sosialisasi Pelayanan Publik Inklusif, menjadi ruang edukasi sekaligus penguatan komitmen aparatur dalam menghadirkan pelayanan yang mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
"Ini bukan sekadar tuntutan penyelenggaraan pemerintahan, melainkan cerminan kepedulian dan nilai kemanusiaan. Setiap warga, tanpa terkecuali, berhak mendapatkan pelayanan yang layak, bermartabat, dan berkeadilan," ucap Wali Kota Probolinggo, dokter Aminuddin, saat menghadiri sekaligus membuka sambutannya di pendopo Kecamatan Kademangan, Rabu (4/11) pagi.
Dalam arahannya, ia menekankan bahwa pelayanan inklusif harus benar-benar dirasakan oleh masyarakat, terutama kelompok yang membutuhkan perhatian lebih, seperti penyandang disabilitas atau warga dengan keterbatasan fisik, masyarakat kurang mampu, anak yatim, serta kelompok rentan lainnya.
Menurutnya, tidak boleh ada warga yang merasa terpinggirkan atau mendapatkan perlakuan berbeda ketika mengakses layanan pemerintahan. Justru, mereka yang memiliki keterbatasan harus mendapatkan perhatian dan kemudahan agar hak-haknya sebagai warga negara tetap terpenuhi.
"Pelayanan yang baik itu tanpa pandang bulu, tidak boleh melihat siapa yang dilayani. Semua masyarakat memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pelayanan yang layak. Bahkan, saudara-saudara kita yang memiliki keterbatasan fisik, masyarakat kurang mampu, maupun anak-anak yatim harus mendapatkan perhatian dan pelayanan yang lebih baik," tegas Aminuddin.
Ia juga mengingatkan bahwa nilai-nilai agama mengajarkan manusia untuk tidak bersikap sombong, melainkan senantiasa memiliki kepedulian terhadap sesama. Mencintai fakir miskin dan anak yatim, menurutnya, tidak cukup hanya diwujudkan melalui ucapan maupun bantuan materi, tetapi juga melalui tindakan nyata, termasuk memberikan pelayanan publik yang setara dan manusiawi.
"Kalau kita ingin menunjukkan kepedulian kepada fakir miskin dan anak yatim, salah satunya adalah dengan memberikan pelayanan yang baik kepada mereka. Jangan sampai ada masyarakat yang datang meminta pelayanan justru merasa dipersulit atau tidak dihargai. Pelayanan adalah bagian dari pengabdian kita," ungkapnya.
Aminuddin juga menegaskan bahwa sosialisasi ini jangan berhenti sebagai kegiatan seremonial. Substansinya harus diterjemahkan menjadi perubahan nyata dalam setiap lini pelayanan, mulai dari tingkat kelurahan hingga kecamatan.
"Jangan sampai kegiatan ini hanya menjadi seremoni. Yang paling penting adalah bagaimana setelah kegiatan ini ada perubahan, ada peningkatan kualitas pelayanan di seluruh lini. Kita harus membangun kekuatan melalui sinergi dan kolaborasi, tidak hanya antarperangkat daerah, tetapi juga dengan instansi vertikal dan seluruh elemen masyarakat," pesannya.
Ia berharap Kecamatan Kademangan dapat menjadi contoh dalam membangun budaya pelayanan publik yang inklusif dan menjadi teladan bagi kelurahan maupun wilayah lainnya di Kota Probolinggo.
Sementara itu, sosialisasi berlangsung interaktif melalui sesi pemaparan materi dan tanya jawab bersama narasumber Eka Chandra. Peserta yang terdiri atas lurah dan perwakilan kelurahan se-Kecamatan Kademangan serta perwakilan TP PKK kelurahan aktif berdiskusi mengenai tantangan dan penerapan pelayanan inklusif di lingkungan masing-masing. (yul/pin)
